Dibakar
Sumber Gambar: Suasana Warga Jambi
DIBAKAR
Oleh: Ahmad Ruslan
Biasanya,
Pagiku berkabut
Segarnya udara menjadi selimut
Biasanya,
Siangku disambut birunya langit
Keindahan yang tak pernah pamit
Biasanya,
Malamku syahdu
Kesucian tarian alam beradu
Biasanya.
Sekarang,
Pagiku berkabung
Segarnya udara terpasung
Sekarang,
Siangku menjerit
Keindahan yang biasanya ada, tak lagi terbesit
Sekarang,
Malamku nampak buram
Kelam, suram, tarian api mencekam
Sekarang.
Sejujurnya,
Aku tak mengerti
Nalarku berjajak tak temu arti
Apa maksud mereka lakukan ini
Ulahnya terjadwal, berujung menyakiti
Seketika nurani kau kebiri
Sekali lagi, tak sedikitpun kupahami
Katanya, ini murni musibah
Segeralah, perbanyaklah Tuhan kau sembah
Ujarnya,
Ah sialan kau, bedebah !!
Jangan kira kami payah
Menafsirkan hinanya setiap ulah
Lagi-lagi,
Tak berhenti mereka berkelakar
Setiap bait kata kumengerti pun sukar
Katanya,
Perbanyaklah kesabaran
Tabahlah kau kedepankan
Karena ini murni ujian dari Tuhan
Dalam bentuk kebakaran hutan
Ucapnya,
Kataku,
Sungguh kalian kurang ajar
Banyak korban terkapar
Rasa kemanusiaanku tertampar
Seketika, damainya berbangsa hambar
Mereka keterlaluan
Dimana letak kemanusiaan?
Sebatas bahan obral demi kepentingan
Mereka sangat bengis
Hingga tak terdengar rintihan tangis
Tak seperti gombalan kemarin yang sangat manis
Sudahlah,
Apapun rentetan argumentasi
Aku tak percaya
Dan tak mau percaya
Aku tak mengerti
Dan tak mau mengerti
Bagiku, ini bukan sekedar kebakaran
Tapi, dibakar.
Salam duka, Saudaraku.
@korbanpemerintah
Jakarta Timur, 22 September 2019

Comments
Post a Comment