Tanda Tanya yang Tak Bertitik
.....................................
“Ya, memang benar aku
bukan siapa-siapa dan belum jadi apa-apa. Namun keresahan ini sudah bergaya
macam raja terbijak di semesta. Ah, sudahlah ini yang paling maksimal yang bisa
aku lakukan; mencaci ketidakmanusiaan hidup manusia. Habisnya, para pemimpinmu
itu dan aku salah satunya mungkin seringnya mengingkari makna khalifah fil ardhi, yang
justru mengamini kekhawatiran malaikat tentang kemungkinan manusia menjadi sang
perusak. Astagfirulllah. “
“Aku berlindung
kepada-Mu, Ya Allah, dari segala ingatan tentang rumah negaraku, beserta para
pembantu rumah tangga yang kami bayar sangat mahal untuk merusak rumah kami,
menaruh beban sangat berat di hati kami, merancang pembangunan pecahnya kepala
kami, menjual rumah kekayaan kami dan menggadaikan martabat kebangsaan
kami.....”
“Tidak terlalu menjadi
masalah bagi hamba kenyataan bahwa umat manusia dan bangsa tidak memiliki pemimpin.
Sudah hamba kuatkan hati yang menyaksikan tanaman-tanaman tak bisa tumbuh
karena tanahnya makin dirasuki narkotika dan airnya beracun. Melihat pohon-pohon
kerdil karena dikuasai oleh benalu. Menatap kebun-kebun nangka yang kini
ditanami cempedak. Memandang kambing dibedaki, dikostumi dengan celana, baju,
jas, dasi, dan sepatu, kemudian dijunjung dinaikkan panggung, dan diperkenalkan
sebagai Satrio Piningit.
Hamba
tangguh-tangguhkan hati untuk berada di tengah lalu lalang manusia hidup yang
kehilangan proporsi, ketepatan, empan
papan, papantes, logika ekspektasi, kematangan, kedewasaan. Hamba kuat-kuatkan bergaul dengan
manusia-manusia yang tinggal jasadnya, tulang dagingnya, aksesori hedonisnya,
ditambah sedikit perasaan yang kekeringan nurani, dan akal yang hampir lenyap
nalarnya.”
“Kalau sampai habis
jatah waktu hamba, dan belum ada apa pun yang hamba lakukan untuk menolong
keadaan ini, masih mungkinkah Engkau buka dan izinkan rentang waktu berikutnya
dan berikutnya lagi? sebab, didalam hitungan hamba, kegelapan yang sedang
mengepung bangsa ini memerlukan dua atau tiga kali hidup hamba.”
Apa maksudnya ini?
nanti setelah mati mau hidup lagi? mau kolusi dengan Tuhan supaya diberi
kesempatan hidup tidak hanya satu kali? Kalau umpamanya iya, hidup yang kedua
sebagai siapa? Sebagai Raja yang bijak nan adil? Jangan-jangan jadi jelata yang
sama hobinya mengeluh. Atau, dititipkan kepada seorang bayi yang lahir sesudah
kematiannya? Atau, bukan jadi siapa, melainkan menjadi apa? Misalnya jin, pohon
timun, kambing, atau ular kadut?
Jangan marah, lebih
baik meneruskan belajar fisika, ilmu gulungan ruang dan lipatan waktu, serta
ketidakterbatasan semesta di mata benda dan otak manusia.
Catatan kecil*
Hidup
Mati Berkali-kali.

Comments
Post a Comment