Kiri dan Kanan Mencoba Salaman


“Kiri-Kanan Kubiar Saja”
oleh: Ahmad Ruslan 
Hasil gambar untuk jalan kiri dan kanan 
Sumber Gambar: The Search Titans

Indonesia sebelah kanan
Kiri-kanan kulihat saja : ”ada banyak keangkuhan”
Indonesia itu surga, Indonesia itu damai, Indonesia itu sejahtera, Indonesia itu tempat merealisasikan mimpi, tapi sayang itu ucapan oleh “katanya”. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak ter-iyakan tumpukkan mimpi bangsa, bisa jadi harapan umat menjadi kuburan paten di negeri kita. Indonesia hari ini harusnya realisasi kemajuan, Indonesia hari ini lazimnya kemakmuran, bukan kemunduran, bukan perpecahan, bukan disintegrasi apalagi matinya nilai toleransi.
ASA
Sampai sekarang masih ada
Dan belum mereda
Kawan ini tentang cerita
Dalam lekukkan sudut rumah kita
Membicarakan negeri ini cukup lelah
Banyak cakap dikira berulah
Terlalu banyak tingkah
Jadi serba salah, berkoar gelisah
Apalagi diam, jelas payah

Lantas lewat cara apa
Supaya..
Aspirasi ini nampak berwibawa
Susah,..
Frontal dikit dibegal media
Bersikap heroik, berharap sang elit panik
Itu minim esensi
Katanya..
Berlagak moderat, agar nalar ini tak sekarat
Dikira kontra rakyat
Susah juga ya, numpang hidup
Di negeri ini
Bingung juga ya, berbaur lebur
Di rumah ini

Ah sudah lah
Mengeluh juga tak ada arti
Justru miskin solusi
Semoga asa tetap ada
Dengan hangat menjaga harapan kita
Hingga kelak, lelucon ini sirna
Hingga nanti, dinamika ini mereda
Dan..
Semoga saatnya tiba
Gelap ini memudar, lubang cahaya terbuka
Hingga kita cukup bebas merespon hidup
Dengan senyum, canda..
 Dan tawa

Oleh: Ahmad Ruslan
(Ruang Renungan, 26 Jan 2017)
Beragama bukan hanya soal individual, hubungan manusia dengan Tuhan (Hablum – minallah) akan tetapi juga hubungan manusia dengan manusia (Hablum – minannas) maka dimensinya kemudian mencakup segala hal. Ricklefs mencatat kenyataan ini sejak dini. Katanya, kaum priyai meragukan bahwa Islamisasi adalah gagasan yang baik untuk masyarakat Jawa.[1] Jelas – terang benderang disana terlihat bahwa kaum elite  Islam di masanya cendrung menihilkan optimisme akan Islamisasi sebagai solusi patologi sosial masyarakat Jawa. Alhasil paradigma semacam itu yang akhirnya menjadi kusta sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Secara garis besar dapat diartikan, problematika krisis moral di era hari ini, berhulu dari kurangnya kepercayaan elite atau tokoh masyarakat itu sendiri terhadap Islam sebagai obat dari seluruh penyakit sosial di lingkungan masyarakat.
Istilah kaum Priyai berawal dari buah pikir Clifford Geertz terhadap realitas masyarakat Jawa pra – kemerdekaan Indonesia. Dikatakan bahwa orang Islam Jawa tergolong dalam trikotomik, yaitu golongan Priyai, Santri, dan Abangan, terangkum dalam bukunya yang berjudul “The Religion Of Java”. Di negeri ini persoalan stratifikasi sosial menjadi warisan yang tak habis-habis. Dari kelas terjelata sampai terdewa semua mengandang-langgeng di negeri kita.
Pendidikan dan pelatihan keahlian menjadi tangga menuju naiknya kelas sosial yang tak dapat disangkal. Sekolahan dijadikan mesin pembuat manusia berakhlak cacat, menghasilkan sarjana-sarjana, doktor-doktor, profesor-profesor yang berdagu tinggi, menghasilkan orang-orang yang mager berkomunikasi dengan orang-orang proletar. Memakan bangku sekolahan membuat keras hati juga kepala, arogansi semakin tinggi.
Pesantren-pesantren menghasilkan maha kyai yang haus akan puji. Menciptakan ustadz-ustadzah yang lapar akan besek moral, para pedagang ayat Tuhan. Kelas-kelas baru pun muncul, beranak-pinak dan produksi terus-menerus hingga membudaya keangkuhan. Para sarjana, doktor, profesor, dan guru besar lainnya semakin perkasa di muka masyarakat, semakin melangit harga sabda-sabdanya. Beginilah elit umat ketika bermetamorfosa menjadi kuli-kuli intelektuil. Begitupun alim-ulama yang seharusnya menjadi kompas uswah bangsa, berevolusi menjadi tukang  penjual ayat-ayat semesta, yang sangat mahal harganya.

Indonesia sebelah kiri
Kiri-kanan kulihat saja: “banyak pembunuhan”
Seram, suram, gelap-gulita, rumit, sukar, tangis-tragis, begitulah Indonesia jika belok ke arah kiri. Darah, merah, amarah, dendam, memasung bahagia sumringah, itupun jika Indonesia memaksakan belok ke kiri. Bukan tanpa alasan, hukum kausalitas laku diobral zaman. Indonesia belum kuat dan tidak akan kuat menampung kayaknya ideologi yang ditawarkan dunia. Kapitalisme menyita mutlak si miskin yang nol pendidikaan dan lumpuh keahlian. Komunisme menawarkan tumpah darah yang pasti, namun menyisakan kebahagian yang mentok di tahap harapan.
Membayangkan komunisme bangkit di Indonesia, bagi kebanyakan orang bukanlah hal yang mustahil. Akan tetapi memastikan itu terjadi, jika mengkaca pada sejarah tentu ketidakmungkinan bisa saja terjadi. Negara yang berhaluan sosialis-komunis di negara bagian ketiga, bukanlah hal yang mudah. Karena sejatinya untuk membangun pondasi tersebut, bahkan menancapkan bendera sosialis-komunis mutlak perlu negara lain sebagai mentor. Karena gerakan keras tersebut, akan menjadi omong kosong tanpa adanya senjata, artinya perlu pasokan senjata dari negara mentor tadi. Dengan kata lain untuk membangun suatu tatanan masyarakat dan pemerintahan melalui ideologi ini mutlak tidak dapat berdiri sendiri, sebut saja interdependensi.
Secara historis, negara yang cukup mapan dan layak menjadi mentor barulah Rusia dan China. Namun pusat perdangan ideologi tersebut, nampaknya bangkrut dimakan zaman. Inilah yang Yoshihiro Francis Fukuyama maksud sebagai The End Of History and The Last Man, Fukuyama berargumen bahwa demokrasi liberal merupakan “titik akhir evolusi ideologi umat manusia” (“end point of mankind’s ideological evolution”) dan “bentuk akhir pemerintahan” (“final for of human government”) dan karena itu merupakan akhir dari Sejarah. Sosialis-komunis, Marxis yang katanya manis-manis itu nyatanya telah kalah dipecundangi oleh rivalnya Liberalis-Kapitalis. Terbukti dengan menjamurnya ideologi liberalis-kapitalis disetiap belahan dunia, praktik pemerintahan di dunia pun telah didominasinya. Perlu bukti? Coba sebutkan negara mana di zaman now yang  tidak mengenal dan memakai konsep demokrasi? di kota besar mana yang tidak terdapat mall-mall atau pasar modern yang bercokol di dalamnya? Hiji, dua, tilu, itu cukup telak kalahnya.

Harmonisasi kiri dan kanan
Kiri kanan kulihat saja: “penuh kepalsuan”
Harmoni menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah pernyataan rasa, aksi, gagasan, dan minat; keselarasan; keserasian. Selaras dan serasi yang dimaksud adalah sebuah pertanyaan, bagaimana harmonisasi antara kiri dan kanan di rumah ibu pertiwi? Serasikah atau sebaliknya risi? Lalu bagaimana para tukang gombal yang menyatakan Indonesia sudah bersatu, rukun, dan menjunjung tinggi nilai persatuan? Ayo siapa yang mau jawab?.
Nyatanya belum begitu bapak ibu, saudara sekalian. Coba tengok berita di tipi-tipi ada tetangga yang saling membunuh gara-gara merasa di ganggu ketenangannya. Tawuran antar kampung, pembantaian antar desa dengan dalih perbedaan ras dan agama. Kacau, mengusik local genius budaya yang ada seolah menjadi hal yang biasa. Apalagi permusuhan ormas, supporter bola, menjadi pengalaman pahit untuk dikenang dan menjadi kenyataan suram untuk diakui.



Orang Gila Mencari Kawan di Negeri Gila
Adaaw..
Saya kadang bingung duduk di sini, diam disana, bernalar di rumah ibu Pertiwi, tidur di tanah air,  numpang hidup di negeri tercinta, berbincang ria menggibahkan aib negara. Dari kita banyak dijadikan itu hobby, dari kita banyak mengeyam itu suatu hal yang renyah untuk diperbesar, diperlebar sampai bercecer kemana-mana. Ada apa sih dengan rumah ini,   negeri apa sih ini, dimana sih kita ini, kok semakin lama semakin beda, jati diri bangsa binasa. Aduh  lama-lama rada absurd melihat orang-orangnya, banyak anehnya  dalam  merespon  sapaan kaum elit dan kaum susah di sana sini. Banyak gilanya, gak ada habisnya membodohi masyarakat, gak ada capeknya membuat ulah yang payah, gak ada ibanya menumbuhkembangkan derita rakyat. Halaah negeri ini sudah bolong, jaring-jaring persatuan mulai lapuk, membusuk. Manisnya toleran hanya gombalan kaum elit yang akhlaqnya semakin pelit dan merumit. Yang kuat Pandai menginjak, yang Pintar hobby menipu, yang Awam makin primitif, yang Tahu so cuek, yang Kritis kecanduan menyindir,..
Aduuhh..
Tinggal si gila yang bertahan di negeri gila, tapi memang itu penduduk aslinya. Tak apa jika kelak si gila mencari kawan dengan mengeluarkan tindakan gilanya, meyadarkan si kuat, si pintar, dan semuanya atau merubah mereka menjadi gila. Siapa tahu jadi kenyang ketawa melihat konyolnya kita dalam menghadapi kehidupan, siapa tahu jadi muntah canda menyikapi bodohnya kelakuan kita selama ini, siapa tahu jadi tahu diri betapa berharganya makna persaudaraan, persatuan dalam ber-Bhineka. Sudahlah tidak ada habisnya, kita saksikan saja episode demi episode para pemain drama bangsa disana, siapa tahu cepet tamat..supaya benar-benar ada hari esok. hehehe
Oleh : Ahmad Ruslan
 (Ruang Renungan, Januari 2017)
Ini bukan waktunya berteori panjang. Sudah lama negeri kita bergerak ke arah ketunabudayaan, meski jargon penguatan budaya terus di dengungkan. Padahal jargon penguatan budaya adalah soal menjadi manusia. Manusia spiritual, manusia moral, manusia estetis, dan manusia yang sadar dan berpikir.[2] Jika membedah realitas keindonesiaan sekarang, tentu definisi yang dimaksud cacat luarbiasa. Penyalahguanaan merawat dan menjaga budaya berbeda dengan maksud idealnya, sangat keluar jalur dan benar-benar offside.
Penuh kepalsuan. Tengoklah sejenak persatuan yang dipaksakan, kerukunan yang dilebih-lebihkan, layar-kaca pandai sekali menipu. Kebenaran menjadi pembenaran, kebaikan mengubah dirinya jadi riya, celakalah – meledaklah. Tak ada habisnya, tak akan pernah habis negeri ini perlu istigfar kolektif. Perlu ikhtiar berjuta-rius untuk membangun bangsa, bukan memelihara mental-mental penjahat. Ayolah bangun, jika hanya sibuk mengubah posisi bantal kapan kita bisa ubah nasib negeri ini?
Memperbaiki dan mengubah budaya korup di negeri seperti memisahkan kura-kura dengan tempurungnya. Upaya badan-badan pemerintahan untuk menumpas benalu negeri seolah hal yang mustahil untuk terealisasi, karena korupsi di bumi ibu pertiwi sudah menjadi budaya yang pamali untuk di punahkan. Yang menjadi penambah bumbu perih adalah lembaga hukum yang semestinya bertugas menumpas koreng negara tersebut, banyak yang jadi follower koreng-koreng itu. Singkat kata, badan pemberantas korupsi, malah ikut-ikut korupsi. Celaka dua belas lusin, makin kacau balaulah semuanya sirna harapan, melihat ini Deidara teriak “katsu !”.
Indonesia kekinian dan era-era sebelumnya tidak menemukan perkembangan yang signifikan, wabilkhusus dalam persoalan keadilan sosial. Misalnya di zaman Orde Baru, seperti dalam tulisan Sri Bintang Pamungkas yang tertuang dalam sub-bab buku Mahasiswa dan Masa Depan Politik Indonesia. Secara gamblang dijabarkan akan berbagai bentuk pelanggaran pemerintah terhadap peraturan yang dibuatnya. Berbagai macam pelanggaran yang dimaksud bukan saja hanya memasung hak-hak warga negara, juga berimbas pada kesengsaraan rakyat itu sendiri. Tidak dapat ditoleril, hanya karena iming-iming alasan pembangunan.
Berbagai kenyataan menunjukkan adanya diskriminasi yang jelas diantara warga negara, dalam bentuk perlakuan yang tidak adil, dan bahkan tidak berperikemanusiaan. Masalah kesejahtraan sosial adalah yang paling dirasakan oleh rakyat sebagai pelanggaran yang nyata dari cita-cita UUD-1945. Adanya adikuasa dalam perekonomian disamping kemiskinan dan kebodohan yang merajalela adalah kenyataan yang tidak bisa diterima rakyat.[3]
Indonesia masa kini secara fisik maupun mental terus tergerogoti perlahan dan terus-menerus. Namun, sebagai warga negara yang baik tentulah jangan terjebak dalam balutan luka pesimisme yang tak kunjung mengering. Harapan harus tetap dirawat dengan baik, kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas membangun negeri mesti terus dipupuk. Agar panen perubahan di masa mendatang jelas didapat. Kita sebagai bangsa yang sadar, harus tetap istiqomah menyebarkan virus-virus kesadaran itu. Terlebih sebagai pemuda bangsa yang akan menjadi pelopor penerus estafet kepemimpinan kelak, haruslah terlatih sebagai pemuda yang intelek dan saleh. Berkomitmen besar membawa roda peradaban bangsa – negara  kedepan menuju baldatun toyyibatun warabbun ghafur. Seperti salah satu butir yang tersirat dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah. Yang berarti menjadikan Indonesia negara yang adil dan makmur serta penuh dengan ampunan Allah SWT. Wallahu ‘alam.






Indonesia : Dulu, Kini, dan Nanti
Oleh: Ahmad Ruslan

Indonesia itu, seperti mendung dikala pagi
Cahaya yang kita rindukan, seakan dilahap peraduan
Indonesi itu, layaknya hujan sore ini
Cahaya yang kita impikan, terpasung keadaan
Badai yang tertuai, membuat asa ini sekarat
Tapi juang kita tak boleh rapuh, terlalu culun andalkan keluh
Apapun itu, apapun yang terjadi kita  wajib bangga
Bagaimanapun ini negeri kita, realita berkata ini rumah kita
Meskipun caci dan puji silih berganti untuk negeri
Tentang cerita kemarin, coba kita renungkan itu sumber hikmah
Tentang dialog hari ini, meskipun nampak penuh gelisah
Keresahan akan jejak langkah generasi mendatang
Nyatanya itu bentuk peduli,  akan nasib bangsa kedepan
Demi senyum Indonesia esok, baiknya..
Tuan pejabat jangan mau di sogok, imannya jangan mudah dibacok
Kasih  rakyat jatah yang sehat, agar  tunas bangsa citanya selamat
Dengan itu, kelak kita bisa bersaing dengan negeri-negeri hebat
Yakinlah, jika asa ini mampu kita jaga..
Mendung ini pasti sirna, hujan ini pun pasti reda
Badai yang ada hanya canda, duka ini pun hanya gombal dunia semata
Mari bangun bersama, Indonesia bisa, Indonesia jaya !!



[1] Nasihin Masha. 2014. Perjuangan Melawan Kalah, Relasi Politik, Kepemimpinan, dan Ekonomi Indonesia, (Jakarta: Republika), hlm. 98.
[2] Haidar Bagir. 2017. Islam Tuhan, Islam Manusia, Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau, (Bandung: PT Mizan Pustaka), hlm. 27.
[3] Mohammad Djazman Al-Kindi.,dkk. 1993. Mahasiswa dan Masa Depan Politik Indonesia, (Yogyakarta: PSIP DPP IMM., Pustaka Pelajar Glagah), hlm. 92-93.

Comments

Popular posts from this blog

Untuk Hafish Adli Irsyad

Bingkisan Kecil untuk Kartini

Tak Mudah Menjadi Dewasa

PUISI UNTUK IBU INDONESIA

Ucapan Selamat dari IMMawan

Ibu Kita, Tak Lagi Ibukota

Apa itu Titik Ba?

Atau Apa?

Definisi Cinta

Seberapa Siap Kita Berbeda?