Jalan Kiri
“Kiri
Bang Kiri...”
oleh: Ahmad Ruslan
Sumber Gambar: SEPOSITIF
Siang itu di angkot no 03 arah
Cililitan, Pasar Rebo, Jakarta Timur, aku berbincang dengan pak Sopir. Merenungi
kehidupan dalam hidup, menggosip tentang bangsa dan nasib bangsa, isue-isue
kekinian...
Hidup
adalah melanjutkan kehidupan. Bukan berarti memaksakan tiadanya kematian
kemudian hidup, selanjutnya mati kembali. Sejatinya titik nol manusia itu dari tiada menjadi ada, dari lahir menuju mati
melalui dinamika kehidupan. Berbeda dengan Tuhan yang memilki sifat Qidam dan Baqa yang Maha Terdahulu dan Kekal. Cukup rumit jika memikirkan
mengapa ada kehidupan jika ujungnya manusia atau makhluk hidup dimatikan.
Sesungguhnya ini berbicara tentang hak prerogatif Tuhan. Hingga dalam berproses
hidup, manusia ditawarkan dalam pilihan-pilihan yang membingungkan, yang
mencerahkan, bahkan berputar dengan lahir kembali pilihan-pilihan yang baru
untuk menyikapi pilihan sebelumnya.
Kederwananan Tuhan dengan opsi “Atau”
Bergibah
tentang pilihan, terkadang hidup dan kehidupan selalu menawarkan dua hal yang
saling kontradiktif. Seperti hitam atau putih, baik atau buruk, kiri atau
kanan, termasuk memilih mati atau hidup. Campur tangan Tuhan pun menjadi hal
mutlak harus ada, ketika manusia harus dihadapkan pada dua pilihan pahala atau
dosa misalnya, surga atau neraka, dunia atau akhirat, Musa atau Fir’aun, dan atau-atau yang lainnya. Serinagkali
wacana tersebut menjebak manusia dalam kebingungan yang akut. Semoga saja kita tersesat menuju jalan yang
benar.
Adanya
dua pilihan dalam setiap wacana hidup, tentu itu kisi-kisi Tuhan terhadap
betapa tidak berdayanya manusia. Tuhan memberi kemudahan kepada manusia supaya
tidak salah tingkah dalam mengambil keputusan, namun realita kadang
menggambarkan manusia dengan cerobohnya sengaja memilih jalan yang beresiko,
sebut saja namanya kesalahan.
Bukankah itu kesombongan yang tidak dapat dibela? Karena jelas itu bersikap
tidak bijak terhadap kemudahan Tuhan, apalagi dengan keadaan yang sadar apa yang
dipilih merupakan salah. Misalkan ketika Tuhan memberikan janji-janji manis
tentang surga dan menggambarkan betapa mengerikannya neraka, manusia dengan
angkuh memilih jalan-jalan menuju neraka. Cela-kalah.
Kesombongan
manusia terhadap kemudahan Tuhan, bermuara dari belum mengenalnya manusia
terhadap sosok Tuhan yang seutuhnya. Berangkat dari jiwa yang masih mengerat
akan ragu dan keraguan. Padahal senyum Tuhan jelas dalam perkasanya sejarah
ketika bersaksi. Sejarah jelas jujur, betapa ramahnya Tuhan dengan
kitab-kitab-Nya memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, dilengkapi dengan
sabda-sabda Rasul-Nya. Sekali lagi sombong jelas nyata, lagi-lagi manusia
dengan sengaja salah dalam memilih.
Kiri yang dianak – tirikan
Berbicara
pilihan tentu tidak asing lagi dengan pilihan kiri dan kanan. Ketika dalam sebuah perjalanan, tentu dua pilihan
tersebut sangatlah rajin untuk hadir, celakanya karena itu sebuah pilihan
tentulah jelas ada yang tidak terpilih atau dengan sadar tidak dipilih. Konteks
pilihan kiri dan kanan akan lebih rumit, jika berbicara hal-hal yang bukan lagi
fisik seperti alamat jalan tadi. Misalnya dalam konteks nilai, ideologi, atau
bahkan tuntunan Tuhan melalui utusan-Nya.
Menjadi
sesuatu yang tidak asing lagi, ketika Nabi utusan Tuhan sebagai uswah paling sempurna untuk seluruh
makhluk menganjurkan untuk segala sesuatunya mendahulukan yang kanan. Seperti
ketika makan hendaknya menggunakan tangan kanan, ketika masuk Mesjid dianjurkan
melangkah kaki kanan terlebih dahulu, atau hal-hal lain yang berbau kebaikan
pasti Nabi memerintahkan kepada ummatnya
untuk mendahulukan yang kanan. Berbeda dengan yang kiri, selalu dinomorduakan.
Kalaupun diutamakan itu ketika memasuki tempat yang kotor misalnya ketika
melangkahkan kaki menuju toilet, membesihkan yang kotor-kotor dan lain
sebagainya. Lalu ..
Begitupun
dengan kebiasaan manusia di dunia ini, kecendrungannya mengutamakan yang kanan.
Berbeda bahasannya dengan orang-orang yang terlahir kidal, banyak hal menggunakan tangan atau kaki kiri. Namun itu
tidak berlaku dalam segala hal karena nilai dan norma seringkali memaksa kekidalan itu dilakukan dalam
batasan-batasan tertentu saja. Sejago apapun si kidal dalam menendang bola,
pandai dalam bermain bulu tangkis dengan tangan kirinya, tetap saja norma
memaksanya harus makan menggunakan tangan kanan, hormat bendera dengan tangan
kanan, atau bersalaman dengan orang banyak tetap dengan si anak sulung. Tangan kanan.
Merenung
sejenak. Betapa sakitnya menjadi si Kiri,
selalu di nomorduakan, selalu menjadi opsi terakhir, layaknya orang kedua dalam
drama di tipi, sakitlah sudah hari-harinya. Keberadaannya hanyalah sebagai
pelengkap, dan bahkan kecendrungannya dijudge
negatif. Pernahkah terpikir seberapa kecewanya si kiri terhadap Tuhan yang menghadirkannya di dunia. Mungkinkah dia
akan tersenyum jika diandalkan terlebih dahulu memasuki atau menyentuh hal-hal
yang kotor. Mungkinkah kita akan menemukan dimana letak titik syukur si Kiri dalam menerima takdirnya itu.
Bagaimana gugatan si kiri sebenarnya
selama ini, apakah dia meminta disamakan derajatnya, atau meminta ditinggikan
derajatnya. Entahlah Tuhan Maha Kuasa dan Maha Tahu apa-apa yang manusia tidak
ketahui.
Ini klarifikasinya..
Sejatinya
Tuhan menciptakan seluruh makhluk itu tidak ada yang sia-sia, semua ada sebab –
akibat dan manfaatnya. Ketika Tuhan
menciptakan anjing misalnya, dalam Islam memang mengkonsumsi daging anjing
haram hukumnya bahkan air liur, kotoran, dan elemen lain yang terkandung dalam
anjing dikategorikan sebagai najis berat. Sesungguhnya Allah menciptakan segala
sesuatu pasti ada sebabnya, semua akan direspon dengan bijak oleh orang-orang
yang berpikir. Artinya seratus persen penciptaan makhluk di alam dunia atau
dialam gaib sekalipun tidaklah sia-sia. Semua ada manfaatnya. Coba kita
renungkan, bukankah anjing juga dapat dimanfaatkan sebagai binatang penjaga
yang dapat diandalkan, membantu polisi dalam melacak jejak para penjahat, dan lain-lain.
Begitupun
sama halnya dengan tangan kiri. Tidak ada maksud Tuhan untuk menganak – tirikan tangan kiri. Justru
itulah kesempurnaan dan kedermawanan Tuhan. Bukankah segagah-gagahnya tangan
kanan, seindahnya mata kanan, atau sekuatnya kaki kanan akan tetap cacat tanpa
hadirnya si Kiri? Coba kita renungkan. Bukan maksud mengucilkan si Kiri, tentu
Tuhan memberi porsi masing-masing. Konteks keadilan bukanlah perkara sama rata atau sama rasa. Perkara
keadilan adalah bagaimana porsi dan fungsi yang ada haruslah tetap seimbang dan
tidak berlebihan. Sampai disini sepakat? Mudah-mudahan mudah disepakati.
Keberadaan ideologi kiri
Nur Sayyid Santoso Kristeva
dalam tulisannya mengatakan; Komunisme
masa kini menitikberatkan empat ide: (1) Sekelumit kecil orang hidup dalam
kemewahan yang melimpah, sedangkan kaum pekerja yang teramat banyak jumlahnya bergelimang
papa sengsara, (2) Cara untuk merombak ketidakadilan ini dengan menjalankan
sistem sosialis, yaitu sistem dimana alat produksi dikuasai oleh negara dan bukannya
oleh pribadi swasta, (3) Pada umumnya, satu-satunya jalan yang paling praktis
untuk melaksanakan sistem sosialis ini adalah melalui revolusi kekerasan, (4)
Dan untuk menjaga melanggengkan sistem sosialis harus diatur oleh kediktatoran
Partai Komunis dalam jangka waktu yang memadai.[1]
Seperti
uraian sebelumnya, menjadi kewas-wasan yang
serius ketika menyinggung hal-hal yang bersifat kiri, apalagi terkait dengan
ideologi. Ideologi yang dihindari, ditakuti, bahkan dibenci. Ideologi ini
sering mendapat bully dalam konteks
keagamaan maupun kenegaraan. Contoh sederhananya di negara kita, Indonesia.
Bagaimana sejarah mencatat torehan luka akan keberadaan ideologi ini. ideologi
kiri yang tenar dengan istilah Sosialisme, yang mengangkut gagasan bahwa alat
produksi yang menyangkut orang-orang banyak itu harus dikuasai oleh orang-orang
banyak juga, tidak boleh dimiliki oleh invidu per-individu. Termasuk distribusi
kekayaan bersama, itu juga harus diatur bersama tidak boleh ada yang namanya
monopoli. Dirangkum dengan istilah sama
rata dan sama rasa. Tidak ada staratifikasi sosial, tidak ada orang kaya
tidak ada orang miskin semua sama rata. Tentu jika dipikir-pikir sangatlah
indah, adil katanya, namun memang
kuadrat utopis.
Mimipinya
sangat indah dan menyenangkan. Tapi cara mewujudkan sosialisme itu piye? Siapa dan dari kalangan mana yang
dapat mewujudkan gagasan itu? Menjawab itu, lahirlah Karl Marx, yang merumuskan
kisi-kisi untuk dapat mewujudkan sosialisme tadi, yang dikenal istilah
komunisme. Orang-orang yang lemah (proletar)
digiring, didoktrin, dan dikompor-kompori untuk berontak, terjadilah revolusi.
Sejarah tidak bohong, sebut saja revolusi Rusia dan China. Dirampaslah harta
kepemilikan orang-orang kaya, orang-orang mampu, orang-orang borjuis, kemudian
dibagi rata dan membuat masyarakat yang setara. Hanya saja yang mengakomodir perkara
tersebut adalah partai atau kelompoknya saja, itu yang disebut komunisme.
Adapula di Rusia yang tersohor itu Leninisme, paham ini diambil dari tokoh
negara Rusia yang bernama Lenin. Jika dalam komunisme yang menjadi penentu
adalah orang-orang kismin atau
proletar sedangkan di Leninisme, kelompok-kelompok yang tergolong komunis tadi
akan dikoordinir secara sentral (terpusat) yang di sebut negara. Jadi negara
yang berhaluan komunis ini yang mengatur distribusi dan produksi masyarakat
proletar, masyarakat miskin, buruh-buruh di negaranya. Adalagi Maoisme, ini
berhulu di China. Mirip dengan pemikiran Leninisme, namun perbedaan itu
terletak pada masyarakat yang digerakkannya. Leninisme bertumpu pada masyarakat
proletar yang berada di perkotaan, seperti para buruh. Sedangkan Maoisme
bertumpu pada masyarakat desa, yaitu para petani. Bahkan dalam dunia
militernya, para petani ini dibekali senjata dan kelengkapannya yang lain. Laah itu coba begimana?
Bagaimana dengan Ideologi kiri di
Indonesia?
Komunisme
dalam tubuh Indonesia kekinian, layaknya jamur atau kutil yang harus dibasmi
dan dileyapkan sampai keakar-akarnya. Keberadaannya tidaklah dirindukan, bahkan
kalau bisa rindunya untuk tidak ada. Jelas, komunisme dalam konteks Indonesia
kekinian bukanlah hal yang harus ada, oleh sebagian orang. Gelap dan suram
begitulah sejarah melayar – kacakan
tentang komunisme. Yang tersirat adalah pembantaian, pembunuhan kolektif, dan
taragedi berdarah-darah hingga tumbuhlah benih-benih dendam kesumat, katanya. Huhh mengerikan.
Benarkah
demikian? Padahal menurut Lukman Santoso
Az dalam bukunya Sutan Sjahrir, Pemikiran dan Kiprah Sang
Pejuang Bangsa, tokoh-tokoh yang mewarnai sejarah Indonesia tidak sedikit
kalangan itu. Sebut saja Syahrir, seorang bapak diplomat Indonesia, Tan Malaka
si bapak republik, bahkan Soekarno pun berkutat dengan paham itu. Bahkan ketiga
tokoh itu dikatakan orang-orang yang layak memimpin negara Indonesia diawal
kemerdekaan. Belum lagi tokoh-tokoh lainnya yang tidak terabsen, namun jelas
perannya sangat luar biasa untuk berdirinya Sejarah Indonesia. Lantas, apakah
kita harus membenci mereka? Tahan dulu, jangan buru-buru !
Bangsa
Indonesia dengan trauma sejarahnya seakan menghapus perlahan jasa-jasa para hero itu, hilang, lenyap dan musnah
dalam ingatan. Mengingat pristiwa Madiun 1948 misalnya, dan tragedi berdarah
lainnya faktanya jelas menggarami luka bangsa. Terlebih ketika isue-isue kekinian nampaknya agak pamer
dengan tinta hitam PKI, padahal menurut hemat penulis jika paham ini berbahaya
bagi kokohnya kaki sang Garuda (Pancasila) janganlah terlalu dipublis. Karena
justru itu akan mengeksiskan kembali
golongan yang menjadi terdakwa di mata masyarakat selama ini. Alhasil, terkesan
pertunjukan para elit ini serba salah tingkah dalam menyikapi isue-isue yang ada.
Corong
perhatian di tahun 2017 dalam kilang
pemerintahan, cukup tersita waktunya pada lirikkan wacana komunis. Di desa, di
kota, di sekolah, di mesjid, dimana-mana sibuk bergosip tentang itu. Apalagi
ketika seorang Jendral kenegaraan berpidato untuk mengimbau masyarakat supaya
menonton film G 30 S/PKI. Aneh, ada apa dengan pemerintah ini, mencari
perhatian kah, takutkah, atau malu-malu mengakui akan kekalahannya menjunjung dan
menjaga nilai luhur Pancasila? Rumit dan membuat pening kepala ummat, apalagi sejarawan tentu akan
geleng-geleng melihat tingkah para wakil rakyat yang polos itu.
Bahaya Komunis
Oleh: Jason
Ranti
Terus terang aku khawatir
Dengan komunis di tanah air
Yang belakangan hidup kembali
Dari dalam gang,
di pikiran, di pinggiran,
di selangkangan
Ini mungkin tanda-tanda
kudetanya yang mutakhir
Ooo.. telepon nine one one!
Belakangan muncul simbol
Di mana-mana,
di langit-langit,
di layar kaca
Di kepala,
di internet,
di jendela
Di kaos band metal,
di bawah terpal,
di balik aspal
Oooo, ow! Mana di mana
Maka pertama kuamankan
keluarga dari bahan pangan
Yang mengandung unsur komunis,
yang manis manis
Yang manis manis,
yang Marxis Marxis
Akan kularang itu Chinese food,
itu babi merah,
itu kolang-kaling
Vodka Rusia dan sayur genjer,
semua kubredel!
Aku siaga, selalu waspada,
bahaya merah di mana-mana
Kini curiga waktu kulihat
istri tercinta rambutnya merah
Bibirnya merah, behanya merah,
kukunya merah, sepatunya merah
Oh, istriku mengapa kau merah?
Mungkin ia agen rahasia?
Oooo, sudah kuduga
Baru kemarin aku terkejut
aku tersudut lalu menyebut
waktu kulihat anak pertama
begitu asik dengan pr berhitung
i er san se s
sungguh komunis telah menyusup
jauh kedalam sekolahan
coba bayangkan palu dan arit
kini diajarkan
dalam bentuk aritmatika
oo ilmu neraka
aku berfikir lalu terkilir
orang orang kiri seperti penyihir
kulihat dunia dititik nadir
kulihat negara terombang ambing
orang orang kiri mendadak hadir
kucari petunjuk didalam kitap
susuri kalimat biar kumantap,
kubaca kiri menuju kanan,
mulai dari kiri menuju kekanan
kini kusadar apa yang ku buat
aku membaca mulai dari kiri
oh ini buku pasti buku kiri,
ohhh buku ku bakar
aku kawatir aku gemetar
tiada pilihan selain kedokter
aku rebahan disamping suster
ia tanyakan kupunya keluhan
aku katakan itu komunis
buat jantung berantakan tak karuan
suster ambilkan itu stetoskop
lalu dadaku ia tekan tekan
ia simpulkan ritme jantungku tak beraturan
ini gejalan aritmia aritmia aritmia
oh tuhan kenapa biarkan
arit keparat tinggal dibadan
ohh suster sialan
Kini kiamat sudah mendekat/
aku berdoa aku berharap/
kepada tentara kepada malaikat/
kepada ormas yang super waras/
aku tak pernah berhenti berharap.
Terus terang aku khawatir
Dengan komunis di tanah air
Yang belakangan hidup kembali
Dari dalam gang,
di pikiran, di pinggiran,
di selangkangan
Ini mungkin tanda-tanda
kudetanya yang mutakhir
Ooo.. telepon nine one one!
Belakangan muncul simbol
Di mana-mana,
di langit-langit,
di layar kaca
Di kepala,
di internet,
di jendela
Di kaos band metal,
di bawah terpal,
di balik aspal
Oooo, ow! Mana di mana
Maka pertama kuamankan
keluarga dari bahan pangan
Yang mengandung unsur komunis,
yang manis manis
Yang manis manis,
yang Marxis Marxis
Akan kularang itu Chinese food,
itu babi merah,
itu kolang-kaling
Vodka Rusia dan sayur genjer,
semua kubredel!
Aku siaga, selalu waspada,
bahaya merah di mana-mana
Kini curiga waktu kulihat
istri tercinta rambutnya merah
Bibirnya merah, behanya merah,
kukunya merah, sepatunya merah
Oh, istriku mengapa kau merah?
Mungkin ia agen rahasia?
Oooo, sudah kuduga
Baru kemarin aku terkejut
aku tersudut lalu menyebut
waktu kulihat anak pertama
begitu asik dengan pr berhitung
i er san se s
sungguh komunis telah menyusup
jauh kedalam sekolahan
coba bayangkan palu dan arit
kini diajarkan
dalam bentuk aritmatika
oo ilmu neraka
aku berfikir lalu terkilir
orang orang kiri seperti penyihir
kulihat dunia dititik nadir
kulihat negara terombang ambing
orang orang kiri mendadak hadir
kucari petunjuk didalam kitap
susuri kalimat biar kumantap,
kubaca kiri menuju kanan,
mulai dari kiri menuju kekanan
kini kusadar apa yang ku buat
aku membaca mulai dari kiri
oh ini buku pasti buku kiri,
ohhh buku ku bakar
aku kawatir aku gemetar
tiada pilihan selain kedokter
aku rebahan disamping suster
ia tanyakan kupunya keluhan
aku katakan itu komunis
buat jantung berantakan tak karuan
suster ambilkan itu stetoskop
lalu dadaku ia tekan tekan
ia simpulkan ritme jantungku tak beraturan
ini gejalan aritmia aritmia aritmia
oh tuhan kenapa biarkan
arit keparat tinggal dibadan
ohh suster sialan
Kini kiamat sudah mendekat/
aku berdoa aku berharap/
kepada tentara kepada malaikat/
kepada ormas yang super waras/
aku tak pernah berhenti berharap.
Begitulah
musisi Jason Ranti mendeskripsikan
komunisme dalam lirik lagunya. Benarkah komunis semenakutkan itu? Mari kita bedah
sedikit dalam butir-butir Pancasila berikut; (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan yang adil dan beradab, (3)
Persatuan indonesia, (4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan, (5) keadilan soaial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sila pertama sampai sila ke-lima jika ditelaah secara seksama nilai-nilai
sosialis-komunis melekat pada baigian-bagian itu. Meskipun memang realitasnya
sila pertama akan sulit tersentuh. Seperti hembus-hembus intelektual dalam
lingkaran Freedom Institute dalam
diskusi buku: Sukarno, Marxisme dan
Leninisme edisi 28 April 2014, mengatakan
“...saya adalah Islam, nasionalis, dan
marxisme...Pancasila itu sublimasi dari manifesto kumunis dan deklaration of
indefenden (Soekarno)”. Begitulah yang disampaikan Peter Kasenda yang menjadi pembicara
sekaligus penulis buku Sukarno, Marxisme
dan Leninisme.
Selalu
ada gejala transparan dalam keberlangsungan sejarah. Biasa kita sebut arus
bawah. Atau, Anda bisa memakai istilah misalnya – software
dari relaitas. Perangkat lunak kenyataan. Dalam dunia teater atau sandiwara,
Anda harus peka terhadap apa yang disimpan dibalik sorot mata dan mimik wajah
seseorang aktor, agar Anda bisa menjadi juri yang baik yang mampu mencandra
substansi makna dari yang diaktingkan oleh aktor tersebut.[2]
Muncul
pertanyaan, jika Soekarno jelas adanya telah mewakofkan sebagian pola pikir dan geraknya mengkompaskan diri
paham kiri, mengapa Soekarno tetap di puja-puji bangsa? seakan tidak ada celah
boroknya di mata masyarakat. Seakan semuanya terampuni begitu saja, lantas
ideolgi kiri yang seperti apa yang dilabelkan negatif selama ini? pening dua kali. Sedangkan dipojokkan
lain, Aidit, Nyoto, Semaun, dan koleganya tenggelam seratus delapan puluh
derajat kilo meter persegi jika
dibandingkan dengan Soekarno, imagenya
mereka di mata masyarakat sudah terlanjur salah dan kalah. Berarti pobia kita
selama ini lebih bertumpu pada perorangan atau kelompok, sedangkan yang diadzankan di muka publik adalah wadahnya,
terjudgelah busuk kandang beserta domba-dombanya. Padahal jelas adanya gagasan
Soekarno tentang Marhaenisme itu
merupakan bentuk lain dari komunisme, namun ala Soekarno. Dengan demikian apa
iya komunisme menjadi putih-jernih,
jika yang mengelola sang Proklamator? Apa jangan-jangan kita hidup
bertahun-tahun berbangsa dan bernegara telah salah paham tentang komunisme?
Karena jika faktanya demikian, berarti kita harus baca ulang sejarah dengan
serius, telaah secara mendalam, dan maknai dengan sungguh-sungguh agar tidak
mewariskan kesalahpahaman ini pada generasi mendatang. Itu lebih adil, karena
membenci bukanlah sikap yang bijak, begitupun memaafkan tanpa ada perbaikan
bukanlah hal yang baik dalam pilihan.
“Bang
Kiri bang...”
Tembak
saja, jangan mengeneralisir semua persoalan dengan kaca mata kuda, karena musuh
sesungguhnya adalah ketidaktahuan dan terlalu terburu-buru dalam mengambil
kesimpulan. Penulis tidak sedang membela sosialis, komunis, marxisme, dan
golongan palu-aritnya, hanya ingin
menyampaikan ayo kita bangun negeri ini bersama, gotong rotong, bahu-membahu
untuk kemajuan dan kesejahtraan. Jangan terus-terusan dibusukkan dan
membusukkan diri dengan persoalan internal, nanti malah membusuk beneran. Jangan ada lagi suudzon pada orang atau kelompok tertentu, namun tetap tanpa mengurangi
kewaspadaan kita akan hal semacam itu. Buka dan baca lagi buku sejarahnya,
pelajari dan maknai lebih kitab-kitab-Nya, supaya tidak gagal paham dalam
menyikapi dunia kekinian maupun di masa mendatang.
Begitulah obrolanku waktu itu
bersama sang sopir angkot. Setelah tersesat dalam kebingungan,
sang sopir yang berpeci kumal itu berkata “kalau begitu, lewat kanan saja pak !”, sedikit mengacangi tawarannya, akupun
menjawab “kiri bang kiri..”. Akupun
turun tepat di depan gerbang rumah, kemudian masuk dan bergegas bobo cantik...
“Otoritas ilmiah tidak terlalu
berarti bagiku secara batin. Dengan begitu seolah-olah jiwaku semakin bebas,
tidak ada nama besar dan tenar, yang resmi maupun tidak resmi, yang menguasai
pikiranku untuk membutakanku dengan kehebatannya dan membuang atau membantai
semua kegiatan orisinalku.. yang lebih penting bagiku adalah bagaimana tiba
pada kebenaran harmonis dan pribadi sifatnya.”[3]
-Sutan
Sjahrir-
(Perjuangan
Kita, 29 Desember 1936)
[1] Nur Sayyid Santoso Kristeva.
2015. Manifesto Wacana Kiri, Membentuk
Solidaritas Organik Agitasi dan Propaganda Wacana Kiri untuk Kader Inti
Ideologis, (Yogyakarta: Pustaka pelajar), hlm. 411.
[2] Emha Ainun Nadjib. 2015. Surat kepada Kanjeng Nabi, (Bandung: PT
Mizan Pustaka), hlm. 159.
[3]
Lukman Santoso Az. 2014. Sutan Sjahrir, Pemikiran dan Kiprah Sang
Pejuang Bangsa, (Yogyakarta: PALAPA), hlm. 265.
Comments
Post a Comment