Jalan Kiri


“Kiri Bang Kiri...”
oleh: Ahmad Ruslan 
Hasil gambar untuk jalan kiri 
Sumber Gambar: SEPOSITIF 

Siang itu di angkot no 03 arah Cililitan, Pasar Rebo, Jakarta Timur, aku berbincang dengan pak Sopir. Merenungi kehidupan dalam hidup, menggosip tentang bangsa dan nasib bangsa, isue-isue kekinian...
Hidup adalah melanjutkan kehidupan. Bukan berarti memaksakan tiadanya kematian kemudian hidup, selanjutnya mati kembali. Sejatinya titik nol manusia itu dari tiada menjadi ada, dari lahir menuju mati melalui dinamika kehidupan. Berbeda dengan Tuhan yang memilki sifat Qidam dan Baqa yang Maha Terdahulu dan Kekal. Cukup rumit jika memikirkan mengapa ada kehidupan jika ujungnya manusia atau makhluk hidup dimatikan. Sesungguhnya ini berbicara tentang hak prerogatif Tuhan. Hingga dalam berproses hidup, manusia ditawarkan dalam pilihan-pilihan yang membingungkan, yang mencerahkan, bahkan berputar dengan lahir kembali pilihan-pilihan yang baru untuk menyikapi pilihan sebelumnya.
Kederwananan Tuhan dengan opsi “Atau”
Bergibah tentang pilihan, terkadang hidup dan kehidupan selalu menawarkan dua hal yang saling kontradiktif. Seperti hitam atau putih, baik atau buruk, kiri atau kanan, termasuk memilih mati atau hidup. Campur tangan Tuhan pun menjadi hal mutlak harus ada, ketika manusia harus dihadapkan pada dua pilihan pahala atau dosa misalnya, surga atau neraka, dunia atau akhirat, Musa atau Fir’aun, dan atau-atau yang lainnya. Serinagkali wacana tersebut menjebak manusia dalam kebingungan yang akut. Semoga saja kita tersesat menuju jalan yang benar.
Adanya dua pilihan dalam setiap wacana hidup, tentu itu kisi-kisi Tuhan terhadap betapa tidak berdayanya manusia. Tuhan memberi kemudahan kepada manusia supaya tidak salah tingkah dalam mengambil keputusan, namun realita kadang menggambarkan manusia dengan cerobohnya sengaja memilih jalan yang beresiko, sebut saja namanya kesalahan. Bukankah itu kesombongan yang tidak dapat dibela? Karena jelas itu bersikap tidak bijak terhadap kemudahan Tuhan, apalagi dengan keadaan yang sadar apa yang dipilih merupakan salah. Misalkan ketika Tuhan memberikan janji-janji manis tentang surga dan menggambarkan betapa mengerikannya neraka, manusia dengan angkuh memilih jalan-jalan menuju neraka. Cela-kalah.
Kesombongan manusia terhadap kemudahan Tuhan, bermuara dari belum mengenalnya manusia terhadap sosok Tuhan yang seutuhnya. Berangkat dari jiwa yang masih mengerat akan ragu dan keraguan. Padahal senyum Tuhan jelas dalam perkasanya sejarah ketika bersaksi. Sejarah jelas jujur, betapa ramahnya Tuhan dengan kitab-kitab-Nya memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, dilengkapi dengan sabda-sabda Rasul-Nya. Sekali lagi sombong jelas nyata, lagi-lagi manusia dengan sengaja salah dalam memilih.
Kiri yang dianak – tirikan
Berbicara pilihan tentu tidak asing lagi dengan pilihan kiri dan kanan. Ketika dalam sebuah perjalanan, tentu dua pilihan tersebut sangatlah rajin untuk hadir, celakanya karena itu sebuah pilihan tentulah jelas ada yang tidak terpilih atau dengan sadar tidak dipilih. Konteks pilihan kiri dan kanan akan lebih rumit, jika berbicara hal-hal yang bukan lagi fisik seperti alamat jalan tadi. Misalnya dalam konteks nilai, ideologi, atau bahkan tuntunan Tuhan melalui utusan-Nya.
Menjadi sesuatu yang tidak asing lagi, ketika Nabi utusan Tuhan sebagai uswah paling sempurna untuk seluruh makhluk menganjurkan untuk segala sesuatunya mendahulukan yang kanan. Seperti ketika makan hendaknya menggunakan tangan kanan, ketika masuk Mesjid dianjurkan melangkah kaki kanan terlebih dahulu, atau hal-hal lain yang berbau kebaikan pasti Nabi memerintahkan kepada ummatnya untuk mendahulukan yang kanan. Berbeda dengan yang kiri, selalu dinomorduakan. Kalaupun diutamakan itu ketika memasuki tempat yang kotor misalnya ketika melangkahkan kaki menuju toilet, membesihkan yang kotor-kotor dan lain sebagainya. Lalu ..
Begitupun dengan kebiasaan manusia di dunia ini, kecendrungannya mengutamakan yang kanan. Berbeda bahasannya dengan orang-orang yang terlahir kidal, banyak hal menggunakan tangan atau kaki kiri. Namun itu tidak berlaku dalam segala hal karena nilai dan norma seringkali memaksa kekidalan itu dilakukan dalam batasan-batasan tertentu saja. Sejago apapun si kidal dalam menendang bola, pandai dalam bermain bulu tangkis dengan tangan kirinya, tetap saja norma memaksanya harus makan menggunakan tangan kanan, hormat bendera dengan tangan kanan, atau bersalaman dengan orang banyak tetap dengan si anak sulung.  Tangan kanan.
Merenung sejenak. Betapa sakitnya menjadi si Kiri, selalu di nomorduakan, selalu menjadi opsi terakhir, layaknya orang kedua dalam drama di tipi, sakitlah sudah hari-harinya. Keberadaannya hanyalah sebagai pelengkap, dan bahkan kecendrungannya dijudge negatif. Pernahkah terpikir seberapa kecewanya si kiri terhadap Tuhan yang menghadirkannya di dunia. Mungkinkah dia akan tersenyum jika diandalkan terlebih dahulu memasuki atau menyentuh hal-hal yang kotor. Mungkinkah kita akan menemukan dimana letak titik syukur si Kiri dalam menerima takdirnya itu. Bagaimana gugatan si kiri sebenarnya selama ini, apakah dia meminta disamakan derajatnya, atau meminta ditinggikan derajatnya.  Entahlah Tuhan Maha Kuasa dan Maha Tahu apa-apa yang manusia tidak ketahui.
Ini klarifikasinya..
Sejatinya Tuhan menciptakan seluruh makhluk itu tidak ada yang sia-sia, semua ada sebab – akibat  dan manfaatnya. Ketika Tuhan menciptakan anjing misalnya, dalam Islam memang mengkonsumsi daging anjing haram hukumnya bahkan air liur, kotoran, dan elemen lain yang terkandung dalam anjing dikategorikan sebagai najis berat. Sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada sebabnya, semua akan direspon dengan bijak oleh orang-orang yang berpikir. Artinya seratus persen penciptaan makhluk di alam dunia atau dialam gaib sekalipun tidaklah sia-sia. Semua ada manfaatnya. Coba kita renungkan, bukankah anjing juga dapat dimanfaatkan sebagai binatang penjaga yang dapat diandalkan, membantu polisi dalam melacak jejak para penjahat, dan lain-lain.
Begitupun sama halnya dengan tangan kiri. Tidak ada maksud Tuhan untuk menganak – tirikan tangan kiri. Justru itulah kesempurnaan dan kedermawanan Tuhan. Bukankah segagah-gagahnya tangan kanan, seindahnya mata kanan, atau sekuatnya kaki kanan akan tetap cacat tanpa hadirnya si Kiri? Coba kita renungkan. Bukan maksud mengucilkan si Kiri, tentu Tuhan memberi porsi masing-masing. Konteks keadilan bukanlah perkara sama rata atau sama rasa. Perkara keadilan adalah bagaimana porsi dan fungsi yang ada haruslah tetap seimbang dan tidak berlebihan. Sampai disini sepakat? Mudah-mudahan mudah disepakati.
Keberadaan  ideologi kiri
Nur Sayyid Santoso Kristeva dalam tulisannya mengatakan; Komunisme masa kini menitikberatkan empat ide: (1) Sekelumit kecil orang hidup dalam kemewahan yang melimpah, sedangkan kaum pekerja yang teramat banyak jumlahnya bergelimang papa sengsara, (2) Cara untuk merombak ketidakadilan ini dengan menjalankan sistem sosialis, yaitu sistem dimana alat produksi dikuasai oleh negara dan bukannya oleh pribadi swasta, (3) Pada umumnya, satu-satunya jalan yang paling praktis untuk melaksanakan sistem sosialis ini adalah melalui revolusi kekerasan, (4) Dan untuk menjaga melanggengkan sistem sosialis harus diatur oleh kediktatoran Partai Komunis dalam jangka waktu yang memadai.[1]
Seperti uraian sebelumnya, menjadi kewas-wasan yang serius ketika menyinggung hal-hal yang bersifat kiri, apalagi terkait dengan ideologi. Ideologi yang dihindari, ditakuti, bahkan dibenci. Ideologi ini sering mendapat bully dalam konteks keagamaan maupun kenegaraan. Contoh sederhananya di negara kita, Indonesia. Bagaimana sejarah mencatat torehan luka akan keberadaan ideologi ini. ideologi kiri yang tenar dengan istilah Sosialisme, yang mengangkut gagasan bahwa alat produksi yang menyangkut orang-orang banyak itu harus dikuasai oleh orang-orang banyak juga, tidak boleh dimiliki oleh invidu per-individu. Termasuk distribusi kekayaan bersama, itu juga harus diatur bersama tidak boleh ada yang namanya monopoli. Dirangkum dengan istilah sama rata dan sama rasa. Tidak ada staratifikasi sosial, tidak ada orang kaya tidak ada orang miskin semua sama rata. Tentu jika dipikir-pikir sangatlah indah, adil katanya, namun memang kuadrat utopis.
Mimipinya sangat indah dan menyenangkan. Tapi cara mewujudkan sosialisme itu piye? Siapa dan dari kalangan mana yang dapat mewujudkan gagasan itu? Menjawab itu, lahirlah Karl Marx, yang merumuskan kisi-kisi untuk dapat mewujudkan sosialisme tadi, yang dikenal istilah komunisme. Orang-orang yang lemah (proletar) digiring, didoktrin, dan dikompor-kompori untuk berontak, terjadilah revolusi. Sejarah tidak bohong, sebut saja revolusi Rusia dan China. Dirampaslah harta kepemilikan orang-orang kaya, orang-orang mampu, orang-orang borjuis, kemudian dibagi rata dan membuat masyarakat yang setara. Hanya saja yang mengakomodir perkara tersebut adalah partai atau kelompoknya saja, itu yang disebut komunisme. Adapula di Rusia yang tersohor itu Leninisme, paham ini diambil dari tokoh negara Rusia yang bernama Lenin. Jika dalam komunisme yang menjadi penentu adalah orang-orang kismin atau proletar sedangkan di Leninisme, kelompok-kelompok yang tergolong komunis tadi akan dikoordinir secara sentral (terpusat) yang di sebut negara. Jadi negara yang berhaluan komunis ini yang mengatur distribusi dan produksi masyarakat proletar, masyarakat miskin, buruh-buruh di negaranya. Adalagi Maoisme, ini berhulu di China. Mirip dengan pemikiran Leninisme, namun perbedaan itu terletak pada masyarakat yang digerakkannya. Leninisme bertumpu pada masyarakat proletar yang berada di perkotaan, seperti para buruh. Sedangkan Maoisme bertumpu pada masyarakat desa, yaitu para petani. Bahkan dalam dunia militernya, para petani ini dibekali senjata dan kelengkapannya yang lain. Laah itu coba begimana?


Bagaimana dengan Ideologi kiri di Indonesia?
Komunisme dalam tubuh Indonesia kekinian, layaknya jamur atau kutil yang harus dibasmi dan dileyapkan sampai keakar-akarnya. Keberadaannya tidaklah dirindukan, bahkan kalau bisa rindunya untuk tidak ada. Jelas, komunisme dalam konteks Indonesia kekinian bukanlah hal yang harus ada, oleh sebagian orang. Gelap dan suram begitulah sejarah melayar – kacakan tentang komunisme. Yang tersirat adalah pembantaian, pembunuhan kolektif, dan taragedi berdarah-darah hingga tumbuhlah benih-benih dendam kesumat, katanya. Huhh mengerikan.
Benarkah demikian? Padahal menurut Lukman Santoso Az dalam bukunya Sutan Sjahrir, Pemikiran dan Kiprah Sang Pejuang Bangsa, tokoh-tokoh yang mewarnai sejarah Indonesia tidak sedikit kalangan itu. Sebut saja Syahrir, seorang bapak diplomat Indonesia, Tan Malaka si bapak republik, bahkan Soekarno pun berkutat dengan paham itu. Bahkan ketiga tokoh itu dikatakan orang-orang yang layak memimpin negara Indonesia diawal kemerdekaan. Belum lagi tokoh-tokoh lainnya yang tidak terabsen, namun jelas perannya sangat luar biasa untuk berdirinya Sejarah Indonesia. Lantas, apakah kita harus membenci mereka? Tahan dulu, jangan buru-buru !
Bangsa Indonesia dengan trauma sejarahnya seakan menghapus perlahan jasa-jasa para hero itu, hilang, lenyap dan musnah dalam ingatan. Mengingat pristiwa Madiun 1948 misalnya, dan tragedi berdarah lainnya faktanya jelas menggarami luka bangsa. Terlebih ketika isue-isue kekinian nampaknya agak pamer dengan tinta hitam PKI, padahal menurut hemat penulis jika paham ini berbahaya bagi kokohnya kaki sang Garuda (Pancasila) janganlah terlalu dipublis. Karena justru itu akan mengeksiskan kembali golongan yang menjadi terdakwa di mata masyarakat selama ini. Alhasil, terkesan pertunjukan para elit ini serba salah tingkah dalam menyikapi isue-isue yang ada.
Corong perhatian di tahun 2017 dalam kilang pemerintahan, cukup tersita waktunya pada lirikkan wacana komunis. Di desa, di kota, di sekolah, di mesjid, dimana-mana sibuk bergosip tentang itu. Apalagi ketika seorang Jendral kenegaraan berpidato untuk mengimbau masyarakat supaya menonton film G 30 S/PKI. Aneh, ada apa dengan pemerintah ini, mencari perhatian kah, takutkah, atau malu-malu mengakui akan kekalahannya menjunjung dan menjaga nilai luhur Pancasila? Rumit dan membuat pening kepala ummat, apalagi sejarawan tentu akan geleng-geleng melihat tingkah para wakil rakyat yang polos itu.
Bahaya Komunis
Oleh: Jason Ranti

Terus terang aku khawatir
Dengan komunis di tanah air
Yang belakangan hidup kembali
Dari dalam gang, 
di pikiran, di pinggiran, 
di selangkangan
Ini mungkin tanda-tanda 
kudetanya yang mutakhir
Ooo.. telepon nine one one!

Belakangan muncul simbol
Di mana-mana, 
di langit-langit, 
di layar kaca
Di kepala, 
di internet, 
di jendela
Di kaos band metal, 
di bawah terpal, 
di balik aspal
Oooo, ow! Mana di mana

Maka pertama kuamankan 
keluarga dari bahan pangan
Yang mengandung unsur komunis,
yang manis manis
Yang manis manis, 
yang Marxis Marxis
Akan kularang itu Chinese food, 
itu babi merah, 
itu kolang-kaling
Vodka Rusia dan sayur genjer, 
semua kubredel!

Aku siaga, selalu waspada, 
bahaya merah di mana-mana
Kini curiga waktu kulihat 
istri tercinta rambutnya merah
Bibirnya merah, behanya merah, 
kukunya merah, sepatunya merah
Oh, istriku mengapa kau merah?
Mungkin ia agen rahasia?
Oooo, sudah kuduga

Baru kemarin aku terkejut 
aku tersudut lalu menyebut 
waktu kulihat anak pertama 
begitu asik dengan pr berhitung 
i er san se   s
sungguh komunis telah menyusup 
jauh kedalam sekolahan 
coba bayangkan palu dan arit 
kini diajarkan 
dalam bentuk aritmatika 
oo ilmu neraka

aku berfikir lalu terkilir
orang orang kiri seperti penyihir
kulihat dunia dititik nadir 
kulihat negara terombang ambing 
orang orang kiri mendadak hadir
kucari petunjuk didalam kitap 
susuri kalimat biar kumantap, 
kubaca kiri menuju kanan,
mulai dari kiri menuju kekanan
kini kusadar apa yang ku buat 
aku membaca mulai dari kiri 
oh ini buku pasti buku kiri,
ohhh buku ku bakar

aku kawatir aku gemetar 
tiada pilihan selain kedokter
aku rebahan disamping suster 
ia tanyakan kupunya keluhan 
aku katakan itu komunis 
buat jantung berantakan tak karuan
suster ambilkan itu stetoskop 
lalu dadaku ia tekan tekan 
ia simpulkan ritme jantungku tak beraturan 
ini gejalan aritmia aritmia aritmia 
oh tuhan kenapa biarkan 
arit keparat tinggal dibadan 
ohh suster sialan

Kini kiamat sudah mendekat/
aku berdoa aku berharap/
kepada tentara kepada malaikat/
kepada ormas yang super waras/
aku tak pernah berhenti berharap.
Begitulah musisi Jason Ranti mendeskripsikan komunisme dalam lirik lagunya. Benarkah komunis semenakutkan itu? Mari kita bedah sedikit dalam butir-butir Pancasila berikut; (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan yang adil dan beradab, (3) Persatuan indonesia, (4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, (5) keadilan soaial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila pertama sampai sila ke-lima jika ditelaah secara seksama nilai-nilai sosialis-komunis melekat pada baigian-bagian itu. Meskipun memang realitasnya sila pertama akan sulit tersentuh. Seperti hembus-hembus intelektual dalam lingkaran Freedom Institute dalam diskusi buku: Sukarno, Marxisme dan Leninisme edisi 28 April 2014, mengatakan “...saya adalah Islam, nasionalis, dan marxisme...Pancasila itu sublimasi dari manifesto kumunis dan deklaration of indefenden (Soekarno)”.  Begitulah yang disampaikan Peter Kasenda yang menjadi pembicara sekaligus penulis buku Sukarno, Marxisme dan Leninisme.
Selalu ada gejala transparan dalam keberlangsungan sejarah. Biasa kita sebut arus bawah. Atau, Anda bisa memakai istilah misalnya  software dari relaitas. Perangkat lunak kenyataan. Dalam dunia teater atau sandiwara, Anda harus peka terhadap apa yang disimpan dibalik sorot mata dan mimik wajah seseorang aktor, agar Anda bisa menjadi juri yang baik yang mampu mencandra substansi makna dari yang diaktingkan oleh aktor tersebut.[2]
Muncul pertanyaan, jika Soekarno jelas adanya telah mewakofkan sebagian pola pikir dan geraknya mengkompaskan diri paham kiri, mengapa Soekarno tetap di puja-puji bangsa? seakan tidak ada celah boroknya di mata masyarakat. Seakan semuanya terampuni begitu saja, lantas ideolgi kiri yang seperti apa yang dilabelkan negatif selama ini? pening dua kali. Sedangkan dipojokkan lain, Aidit, Nyoto, Semaun, dan koleganya tenggelam seratus delapan puluh derajat kilo meter persegi jika dibandingkan dengan Soekarno, imagenya mereka di mata masyarakat sudah terlanjur salah dan kalah. Berarti pobia kita selama ini lebih bertumpu pada perorangan atau kelompok, sedangkan yang diadzankan di muka publik adalah wadahnya, terjudgelah busuk kandang beserta domba-dombanya. Padahal jelas adanya gagasan Soekarno tentang Marhaenisme itu merupakan bentuk lain dari komunisme, namun ala Soekarno. Dengan demikian apa iya komunisme menjadi putih-jernih, jika yang mengelola sang Proklamator? Apa jangan-jangan kita hidup bertahun-tahun berbangsa dan bernegara telah salah paham tentang komunisme? Karena jika faktanya demikian, berarti kita harus baca ulang sejarah dengan serius, telaah secara mendalam, dan maknai dengan sungguh-sungguh agar tidak mewariskan kesalahpahaman ini pada generasi mendatang. Itu lebih adil, karena membenci bukanlah sikap yang bijak, begitupun memaafkan tanpa ada perbaikan bukanlah hal yang baik dalam  pilihan.
“Bang Kiri bang...”
Tembak saja, jangan mengeneralisir semua persoalan dengan kaca mata kuda, karena musuh sesungguhnya adalah ketidaktahuan dan terlalu terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Penulis tidak sedang membela sosialis, komunis, marxisme, dan golongan palu-aritnya, hanya ingin menyampaikan ayo kita bangun negeri ini bersama, gotong rotong, bahu-membahu untuk kemajuan dan kesejahtraan. Jangan terus-terusan dibusukkan dan membusukkan diri dengan persoalan internal, nanti malah membusuk beneran. Jangan ada lagi suudzon pada orang atau kelompok tertentu, namun tetap tanpa mengurangi kewaspadaan kita akan hal semacam itu. Buka dan baca lagi buku sejarahnya, pelajari dan maknai lebih kitab-kitab-Nya, supaya tidak gagal paham dalam menyikapi dunia kekinian maupun di masa mendatang.
Begitulah obrolanku waktu itu bersama sang sopir angkot. Setelah tersesat dalam kebingungan, sang sopir yang berpeci kumal itu berkata “kalau begitu, lewat kanan saja pak !”, sedikit mengacangi tawarannya, akupun menjawab “kiri bang kiri..”. Akupun turun tepat di depan gerbang rumah, kemudian masuk dan bergegas bobo cantik...









“Otoritas ilmiah tidak terlalu berarti bagiku secara batin. Dengan begitu seolah-olah jiwaku semakin bebas, tidak ada nama besar dan tenar, yang resmi maupun tidak resmi, yang menguasai pikiranku untuk membutakanku dengan kehebatannya dan membuang atau membantai semua kegiatan orisinalku.. yang lebih penting bagiku adalah bagaimana tiba pada kebenaran harmonis dan pribadi sifatnya.”[3]
-Sutan Sjahrir-
(Perjuangan Kita, 29 Desember 1936)


[1] Nur Sayyid Santoso Kristeva. 2015. Manifesto Wacana Kiri, Membentuk Solidaritas Organik Agitasi dan Propaganda Wacana Kiri untuk Kader Inti Ideologis, (Yogyakarta: Pustaka pelajar), hlm. 411.
[2] Emha Ainun Nadjib. 2015. Surat kepada Kanjeng Nabi, (Bandung: PT Mizan Pustaka), hlm. 159.
[3] Lukman Santoso Az. 2014. Sutan Sjahrir, Pemikiran dan Kiprah Sang Pejuang Bangsa, (Yogyakarta: PALAPA), hlm. 265.

Comments

Popular posts from this blog

Untuk Hafish Adli Irsyad

Bingkisan Kecil untuk Kartini

Tak Mudah Menjadi Dewasa

PUISI UNTUK IBU INDONESIA

Ucapan Selamat dari IMMawan

Ibu Kita, Tak Lagi Ibukota

Apa itu Titik Ba?

Atau Apa?

Definisi Cinta

Seberapa Siap Kita Berbeda?