Subuh Tadi


Sumber Gambar: bukan Matahari

SUBUH
Oleh: Ahmad Ruslan

Subuh tadi,
Kulihat hamba-Mu berbondong-bondong
Ke rumah-Mu, tanpa didorong-dorong
Mereka bangun oleh sadar
Dengar segar,
Mukanya cerah berbinar-binar
Memancar
Tanpa alasan duniawi
Bukan juga nafsu ragawi

Aku cemburu pada ikhlas
Mereka,
Hati suci tak berbekas
Mereka,
Rela tanpa berat
Ringan kaki, terangkat
Tanpa bantah,
Itu bukti ruh yang sehat
Dalam sunyinya kekhusyukan
Mereka meneteskan air mata
Bukan duka,
Tapi itu cinta
Bukan sengsara nestapa
Tapi itu bahagia

Aku laki-laki pencemburu
Pada pemilik iman yang terus menggebu
Tanpa gerutu,
Sayang mereka beradu
Bertemu, dengan-Mu
Aku malu,
Tersipu sudah muka hati
Dosa yang berjuta
Bahkan tak terungkap oleh angka
Juga tak terakumulasi data-data
Menimbun, menggunung
Mengumpul, seperti lautan
Tak terbatas, seperti semesta
Dosa hamba

Aku Si Ahli maksiat
Makhluk hina bergelar bangsat
Pemilik iman yang berkarat
Namun,
Aku dalam tak tahu diri
Juga dalam sadar diri
Masih saja,
Tak hentinya Kau beri aku nikmat
Aku si Pemilik iri, dengki
Pada diri-diri yang bersih
Suci, nurani,
Akupun ingin dicinta
Juga mencinta,
Oleh-Mu,
Pada-Mu,
Walaupun tak selamanya
Tuhan,
Untuk kali ini saja.


@korbanpemerintah
Ruang Renungan, 10 Oktober 2019

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Untuk Hafish Adli Irsyad

Bingkisan Kecil untuk Kartini

Tak Mudah Menjadi Dewasa

PUISI UNTUK IBU INDONESIA

Ucapan Selamat dari IMMawan

Ibu Kita, Tak Lagi Ibukota

Apa itu Titik Ba?

Atau Apa?

Definisi Cinta

Seberapa Siap Kita Berbeda?