RESENSI FILM
“Nil Battey Sannata”
(Yang Lebih
Membutuhkan Pertolongan)
Oleh : Ahmad Ruslan[1]
Menemukan
dan menonton film yang satu ini, merupakan suatu keberuntungan tersendiri bagi
saya. Karena diluardugaan ternyata film ini mampu menghipnotis, sekaligus mampu
mengoyak emosi saya dalam setiap alur ceritanya. Jengkel, tawa, bosan, bahkan
suasana sedih yang memaksa air mata melompat dari kantongnya, kerap kali
ditawarkan ketika menonton film asal India ini. Film ini tergolong baru, karena
baru terbitan tahun 2016, kemasannya menarik dibalut konsep yang cukup
sederhana namun sangat kena pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh team film Nil Battey Sannata. Nilai keluarga,
pendidikan, budaya, kemiskinan, semua di aduk-aduk dalam satu bungkus film
keren ini. Bahkan film ini menawarkan dilema yang dasyat ketika harapan di
bneturkan dengan realitas yang ada.
Terdapat
beberapa penggalan alur yang ditawarkan dalam film yang diperankan oleh Swara
Bhaskar dan kawan-kawan ini, dari penjabaran terhadap latar belakang mereka
sampai digiring perlahan ke arah klimaks. Terlebih ketika para pemeran
satu-persatu memamerkan perannya yang cukup sulit untuk ditebak, misal sosok
Didi, Sweaty, Pintu, Amar, Prof.Gupta, Pak Kolektor dan lain-lain.
Cerita
dimulai dengan alunan musik, yang syairnya menggambarkan kehidupan dalam sudut
pandang film tersebut, nada yang bernuansa kaum proletar dibungkus dengan
syair-syair tentang kehidupan. Film ini menggambarkan bagaimana keadaan sebuah
keluarga yang dihuni oleh seorang Ibu yang bernama Chanda Bahay, dan seorang
anak perempuan kelas 10 bernama Apeksha Shival Sahay yang sering di panggil
Appu, namun sosok ayah sebagai kepala keluarga tidak terlalu disorot, bahkan
tidak dimunculkan dari awal hingga akhir. Jadi Chanda disini digambarkan
sebagai ibu sekaligus kepala keluarga. Kedaan keluarga ini digambarkan secara
ekonomi masuk dalam kategori kelas menengah kebawah. Itu jelas terlihat dari
background keadaan rumah mereka yang sangat sederhana dan latarbelakang
pekerjaan sebagai pembantu dari seorang
dokter bernama Dr. Deewan atau yang sering dipanggil Didi dan sekaligus pegawai
pabrik sepatu pada malam hari sebagai pekerjaan tambahan.
Dalam
setting sosial, ada yang menarik sekaligus menggelitik pikiran saya. Kadang
mengangguk-ngangguk sendiri ketika film ini menawarkan realitas sosial yang
ada, karena saya yakin keadaan semacam ini bukan hanya ada di India, di
Indonesia pun ada. Realitas yang di maksud adalah dikalangan anak-anak yang
kurang mampu, mental mereka terhadap impian sangat memprihatinkan. Singkatnya tidak berani bermimpi. Bahkan ketika teman
si Appu, yaitu si Pintu bercerita tentang mimpinya, dengan bangganya dia ingin
menjadi sopir. Sangat menampar emosi saya, ketika seorang pelajar yang memang
masih dalam kategori anak-anak, tapi mimpinya hanya ingin menjadi seorang
sopir. Begitupun ketika ada sebuah perayaan lucu, dari tetangga Appu, ketika
ibunya bertanya perayaan apa yang dimaksud, Appu menjelaskan bahwa itu perayaan
tetangganya yang diterima menjadi seorang satpam. Chanda (ibunya) yang cukup
kritis dalam hal ini mengkritik dan menganggap itu sebuah pembodohan, karena
menurut Chanda apa yang perlu dibanggakan menjadi seorang Satpam, itu memalukan.
Setting
selanjutnya, adalah obrolan Chanda dengan majikannya Didi. Chanda memang sejak
dulu sudah menyimpan kegelisahan ini, keadaan hidupnya yang susah dan dia tidak
mau anaknya merasakan hal sama dengan dengan dia. Terlebih terauma dia sewaktu
dulu gagal di kelas 10, dan dia tidak ingin hal tersebut terjadi kepada Appu
anaknya. Didi sebagai seorang majikan yang cukup resfect dan dekat dengan
pembantunya itu, bahkan ruang curhat keduanya kerap kali terlampir disetiap
pertemuannya itu. Chanda bercerita tentang kekhawatiran akan nasib anaknya itu,
yang keadaannya malas-malasan, tidak punya semangat, bahkan cita-cita dan sangat nol besar ketika berhadapan dengan
Matematika. Belum lagi lingkungan dimana dia tinggal, yang menggiring
pesimisnya dia terhadap keberadaan mimpi bagi orang-orang miskin. Didi dengan
santai merespon apa yang dikeluhkan oleh teman sekaligus pembantunya itu, dia
menggambarkan bahwa pandangan manusia sekarang tentang pendidikan berbeda,
orientasi pendidikan hanya bertumpu sebagai lahan bisnis, artinya selalu
bermuara pada pekerjaan. Chanda pun menyerap betul apa yang dijelaskan oleh
majikannya itu yang seorang terdidik karena sebagai dokter senior diantara
koleganya. Namun, Chanda tetap menyimpan kekhawatiran itu terlebih melihat
keadaan putrinya yang sangat butuh motivasi dalam hidup.
Malam
hari sebelum tidur, berangkat dari kegelisahannya Chanda mencoba membuka
obrolan kepada anaknya itu. Dia menanyakan tentang bagaimana harapannya ketika
Appu dewasa kelak, mau jadi apa, sebagai apa, dan dimana, intinya ingin
bercita-cita menjadi apa. Dengan nada tenang tanpa dosa, Appu menjawab ingin
menjadi pembantu. Sontak ibunya kaget, dan gak habis pikir sependek itukah
cita-cita anaknya tersebut, hingga ia tak berani untuk bermimpi. Terlebih
ketika Appu berstatemen bahwa anak dokter ya jadi dokter, anak insinyur ya jadi
insinyur, jadi kalau ibu pembantu ya saya jadi pembantu, ujar Appu. Siang
malam, Chanda memikirkan hal tersebut, tentu dalam benaknya adalah anaknya
harus bisa lebih baik dari dirinya. Jangan sampai miskin, jangan sampai hidup susah.
Seperti
biasa untuk menjawab dan membagi setiap pilu hidupnya, Chanda curhat kepada
majikannya Didi. Chanda pun menjelaskan obrolan menggemaskan semalam bersama
anaknya tersebut. Dengan bijak, Didi menjawab dengan sebuah contoh jika
rasionalisasi Appu tersebut dibenarkan, tentu Abdul Kalam pada masanya tidak
akan menjadi seorang Presiden India, karena ayahnya adalah seorang nelayan.
Chanda juga menjelaskan bahwa sebenarnya anaknya itu pintar, namun malas dan
Appu sangat kepayahan dengan Matematika. Chanda khawatir dengan pobia anaknya
terhadap Matematika tersebut, mimpinya akan terhambat.
Dengan
kebaikan hatinya, Dr. Deewan atau Didi menawarkan bimbel kepada Chanda untuk
anaknya, agar nilai Matematikanya lulus dan tidak menjadi penghambat. Chanda
pun sepakat dengan ide tersebut, namun Didi menyarankan keesokan harinya untuk
bertemu Tn. Gupta selaku manager tempat bimbel disana. Setelah membuka obrolan,
Chanda menjelaskan bahwa Appu hanya mampu mencapai 47% dalam meraih hasil di
tiap ulangan Matematika. Namun Tn. Gupta membantah bahwa temapatnya hanya
menerima peserta bimbel minimal memiliki modal rata-rata 75%. Sontak Chanda
kaget, dan berontak hatinya mendengar itu. Bahkan Chanda sesekali menimpali,
bukankah bimbel untuk orang-orang yang bodoh dan yang memang perlu waktu
khusus. Tetap tidak bisa. Setelah beberapa kali negosisasi, akhirnya Chanda
mendapat keringanan dari Tn. Gupta, ia menawarkan minimal Appu mendapat nilai
UTS Matematikanya sebesar 50%. Chanda stres berat, dan pesimis dengan prihal
tersebut dan akhirnya memuarakan masalahnya kepada Didi lagi. Didi pun seketika
merenung, dan memiliki usul yang cukup gila, idenya yaitu menyekolahkan Chanda
kembali, di tempat Appu sekolah, bahkan
sekelas dengan anaknya tersebut. Chanda sangat syok mendengar ide Didi kali
ini, sesekali dia menanyakan adakah ide
lain selain itu, namun Didi tetap kokoh dengan idenya tersebut. Senjata andalan
untuk memperkokoh idenya tersebut adalah “jangan
terlalu dipikirkan dan jangan merasa dipersulit, jika kamu mau anakmu jadi
pembantu ya tidak apa-apa”. Dengan menghela nafas yang cukup dalam, Chanda
pun mengiyakan ide dari majikannya itu.
Keesokan
harinya, Chanda ditemani Dr. Deewan mendaftar dan menemui langsung kepala
sekolahnya yaitu Pak Srivastav. Pak kepala sekolah sangat kaget dengan apa yang
disampaikan, karena menurutnya ini suatu hal yang tidak mungkin. Namun Dr.
Deewan menekan terus, dan dipastikan bahwa ini harus diklarifikasi dan tidak
menyalahi prosedur yang ada. Ada motto yang menarik dalam obrolannya yaitu “lebih baik terlambat, daripada tidak sama
sekali”. Akhirnya setelah menempuh jalur perizinan, kemauan tersebut pun
dapat terpenuhi. Chanda bisa masuk sekolah, bahkan sekelas dengan anaknya di
kelas 10.
Appu
pun mendengar kabar ini, Appu marah dan tak menyangka bahwa ibunya bisa
terpikir akan melakukan ide gila tersebut bahkan itu sudah kejadian. Appu pun
membujuk ibunya, bahkan berjanji pada ibunya bahwa dia akan rajin belajar
kedepan tidak lagi mengecewakan ibunya. Ibunya tersenyum, dan mengiyakan
permintaan anaknya tersebeut. Namun keesokan harinya, Chanda tetap saja pada
pendiriannya, melanjutkan sekolahnya. Disekolah, Appu sangat terkejut ternyata
ibunya tetap saja melanjutkan sekolah. Appu marah segila-gilanya, bahkan dia
tidak pulang seperti biasanya. Appu pulang agak malam. Dia marah.
Chanda
cukup cakap dalam berbaur dengan teman-teman dikelasnya, padahal umurnya sangat
jauh berbeda. Meskipun pada awalnya kedatangan Chanda banyak yang
mentertawakan, namun setelah beberapa hari kedepan Chanda sudah memiliki banyak
teman termasuk dengan Amar si murid pintar Matematika dikelasnya. Bahkan Chanda
bersikeras mendekati Amar agar mau diajarin olehnya. Semakin emosilah Appu
melihat kelakuan ibunya tersebut, yang dianggap telah mengambil teman-temannya,
bahkan kehidupannya sebagai anak sekolahan. Appu sangat kecewa, ia ingin
mengambil kembali apa yang seharusnya ia memiliki terkhusus menghentikan niat
ibunya untuk bersekolah. Appu menantang ibunya, jika nilai Matematikanya bisa
lebih dari 50% ibunya harus berhenti sekolah. Namun ibunya menolak, ibunya
menantang jika nilainya lebih besar dari
ibunya baru permintaan anaknya tersebut akan ia wujudkan. Dengan sedikit
menghela nafas, Appu pun mengiyakan tantangan tersebut. Ibunya tersenyum.
Appu
berlomba-lomba, belajar keras dengan tekad yang kuat berharap bisa mengalahkan
ibunya tersebut. Bahkan Amar pun menjadi target buruan belajar Appu. Beberapa
hari kemudian, ulangan pun berlalu dan tibalah hari pembagian hasil ulangan. Hasilnya
mengejutkan, Appu mampu mengalahklan ibunya dengan agregat 58;52. Ibunya sangat
bahagia, begitupun dengan Appu. Suasana antar keduanya nampak lebih cair,
bahkan ibunya memberikan makan yang enak sebagai bentuk hadiah pada anak
tercintanya itu.
Namun
dalam bincang-bincangnya, diluar dugaan ternyata Appu memang benar-benar tidak
ada niatan sama sekali untuk bisa menaklukan Matematika atau sadar untuk
belajar lebih giat lagi, bahkan yang mengejutkan bahwa semua yang dia lakukan
tidak terlepas dari ketidakinginannya dia melihat ibunya dan ingin menjauhkan
ibunya dari dirinya dan teman-temannya disekolah. Ibunya sangat kecewa dan
tidak menyangka, mengapa anaknya sampai berpikir demikian. Padahal apa yang
dilakukan selama ini tidak terlepas dari rasa sayangnya terhadap Appu, agar dia
bisa lulus dan cita-citanya untuk dapat merubah nasib keluarganya melalui Appu.
Keesokan
harinya ibunya tidak lagi kesekolah, namun setelah beberapa renungan dan
konsultasi dengan Didi, Chanda pun menghendaki suatu keputusan. Keesokan
harinya, Chanda pun masuk sekolah lagi. Melihat itu, Appu marah tak tertahankan.
Ada kutipan yang menarik dari Chanda, “jika aku menerima kekalahan, maka aku
tidak akan menang melawan kehidupan”. Bahkan suatu ketika, Ibunya mampu
mengalahkan Appu, sekaligus menandakan bahwa keadaannya sekarang impas. Appu
semakin kesal bahkan membenci ibunya itu, setiap hari keadaan mereka tidak pula
membaik.
Suatu
ketika, Appu melihat ibunya kerap kali pulang malam diantarkan oleh seorang
pria, berscuter. Dan itu tidak sesekali dua kali, bahkan setiap pulang kerja.
Appu curiga akan hal itu, sebagai bentuk pembalasan dan kekecewaannya Appu
mencuri uang ibunya. Padahal uang tersebut adalah tabungan ibunya dan untuk
masa depan Appu juga. Appu mengajak Sweaty dan Pintu hura-hura dengan uangnya
tersebut, membeli escream, pakaian, ke tempat hiburan dan lain-lain.
Sampai
ia kepergot ketika pulang, memakai baju, tas dan sepatu baru. Ibunya marah tak
terhindarkan, bahkan kerap ada pukulan. Dalam hal ini, Chanda tampak putus asa
dia bingung apa yang harus dilakukan terhadap anaknya tersebut. Segala upaya
yang dia lakukan tidak pernah diindahkan
oleh anaknya itu, bahkan tak ada sedikit pun kesadaran itu muncul, Appu
belum mampu mengkap maksud mulia ibunya tersebut.
Sampai
akhirnya Amar tidak tahan lagi melihat keadaan tersebut, dan mengajak Appu
janjian dengan dia disuatu tempat pada malam hari yang cukup larut. Appu pun
datang mengindahkan undangan Amar, dan bertemu dengannya. Ketika samopai pada
tempanya tersebut, Appu melihat Amar yang berbadan krempeng itu sedang bekerja
dibengkel mobil. Lalu Amar mengarahkan pandangan Appu ke sebrang jalan, yang mana
ada ibunya yang sedang bekerja disana. Amar pun menjelaskan dengan rinci awal
mula, gaji, kegiatan, ibunya akhir-akhir ini dan menjelaskan bahwa orang yang mengantarkan
ibunya tiap malam adalah kakaknya Amar. Sesekali Amar menyelipkan cerita
tentang hidupnya, dan motivasi-motivasi yang dia suguhkan ke telinga Appu. Appu
menangis tak tertahankan, sungguh dalam raut wajahnya terdapat banyak sekali
penyesalan terhadap ibunya itu.
Ketika
tiba dirumah bertemu ibunya, dengan emosi yang tak tertahan lagi Appu memeluk
ibunya dengan erat dan menyampaikan maaf yang tulus kepadanya. Dan berjanji
akan merubah sikap dan prilakunya itu. Suasana disana mengkabut dan penuh haru.
Benar kata Chanda, bahwa jangan dulu mau kalah, jangan dulu menyerah, hadapi
semua pasti akan tercapai. Setelah beberapa tahun berlalu, Appu lulus dengan
predikat yang sangat membanggakan dan melanjutkan studinya ke perguruan tinggi
yang tersohor di India, bahkan dalam film tersebut di gambarkan Appu menjadi
sosok wanita dewasa yang sukses, sesuai dengan apa yang selama ini ibunya
harapakan.


Comments
Post a Comment