Kegundahan Sebelum Belokan
“Aku membela Islam. Kita seharusnya
tidak menyamaratakan Islam karena beberapa orang yang nakal. Orang semacam itu
juga ada di kalangan umat Hindu, Yahudi, Kristen, Budha, dan semua agama. Islam
adalah salah satu agama yang sangat penting selama berabad-abad, di masa lalu,
sekarang, dan masa depan, itu adalah harapan semua orang. Sebagian muslim di
negeri ini (India) mengatakan kepada saya bahwa Islam harus memperluas cinta
dan kasih sayang kepada semua makhluk. Dan itu memang inti ajaran Islam. Jika
seseorang menciptakan pertumpahan darah, mereka bukan muslim. Makna jihad
adalah perjuangan dalam diri kita terhadap semua emosi negatif seperti
kemarahan, kebencian, dan nafsu lain yang menimbulkan masalah di masyarakat”.[1]
Kata
Dalai Lama (seorang tokoh pemimpin negara sekaligus tokoh spiritual Tibet)
dalam pidatonya usai menerima gelar kehormatan Doktor Bidang Sastra dari
Universitas Jamia Islamia di New Delhi, India.
Begitulah
pandangan Dalai Lama tentang Islam. Padahal secara background Dalai Lama ini beragama Budha, bahkan orang yang ditokohkan
dalam hal spiritual keagamaan sekaligus pemimpin negara Tibet. Bicara Islam,
tentu tidak terlepas dari istilah rahmatal
lil alamin (rahmat bagi semesta alam). Bicara Islam juga berarti kita
berbicara kedamaian, toleransi, cinta kasih,
jalan hidup-matinya manusia. Islam atau orang-orang Islam yang
seringkali dibungkus dengan gelar muslim atau golongan agamis, dewasa ini rajin
sekali dikotak-kotakan atau mengkotakan diri dengan golongan lainnya. Golongan
agamis juga seringkali di sebut golongan kanan, yang kebanyakan orang
mendikotomikan perkara itu dengan golongan kiri. Penilaian kebanyakan orang
yang cendrung subyektif ini membrand
golongan kanan dengan cangkang yang positif, putih, soleh, dan penuh kebaikan
karena terikat unsur ketuhanan. Sebaliknya, golongan yang dianak-tirikan yaitu
golongan kiri, diklaim sebagai golongan hitam, kejam, dan anti Tuhan.
Istilah
“golongan kanan dan golongan kiri” akhir-akhir ini menjadi tema obrolan yang cukup
bergengsi di tiap goyangan bibir forum kajian Mahasiswa, wabilkhusus Mahasiswa yang katanya bertittle aktivis. Dua golongan tadi menjadi gladiator ilmiah yang cukup kuat dan mampu bertahan lama di
lingkungan kaum akademisi. Dalam lingkup Mahasiswa sebagai sentral pengolah
wacana maupun oleh para Doktor dan Profesor sebagai elit akademisi yang katanya
khatam betul akan wacana renyah tersebut. Namun satu hal yang masih membatu
dalam rute nalar penulis adalah seberapa kita paham akan konsep yang ditawarkan
oleh dua golongan yang dimaksud. Benarkah kita sudah tidak salah paham dalam
memaknai gerak dan corak endemik yang dimiliki oleh tiap-tiap golongan yang
dimaksud dan memaksa keterpihakan untuk memilih lewat “kanan” atau “kiri”, dalam berpikir maupun cara bergaul.
Seseorang
berpeci bergumam “lewat jalan kanan aja
Pak !”.
Membahas
dikotomi dua golongan tadi, menjadi dilema tersendiri bagi golongan tengah,
yang berkomitmen untuk tidak memihak dan terkenal moderat. Alhasil golongan
moderat menjadi obat nyamuk yang
kesepian untuk dibahas. Begitupun para pengikutnya seringkali mendapat julukan
kaum-kaum yang minor dan dianggap tidak memiliki sikap, bahkan celakanya dicap
golongan yang nothing identity. Dunia
memang selalu menawarkan persoalan yang menjebak ummat dalam skeptisisme yang tak berkesudahan.
Begitulah
yang terjadi jika dunia telah memasarkan wacana di era Post-Truth. Yang salah menjadi benar, yang benar dimodif-modif
menjadi salah. Namun, dengan demikian bukan berarti penulis memproklamirkan
kaum moderat sebagai kaum yang benar. Karena dalam rumus filsafat ala pandang
binner jika anda benar apakah saya harus
salah dan jika saya benar apakah anda harus salah? Begitupun sebaliknya.
Nyatanya bisa jadi keduanya sama-sama salah dan bisa jadi keduanya benar.
Intinya penulis tidak sedang membawa kompas kebenaran, urgensinya lebih kepada
yang mana yang lebih berfaedah dan banyak maslahatnya.
Seseorang
berbaju koko bergumam “lewat jalan kanan
aja Pak !”.
Sebelumnya,
kita berikhtiar terlebih dahulu untuk mengklarifikasi sebenarnya siapakah yang
termasuk golongan kanan, golongan kiri, dan golongan yang moderat itu. Mencegah
salah paham, perlunya tabayyun ilmiah
dalam membuka lembar buku persoalan ini. Dengan begitu diharapkan kaum
intelektual yang duduk manis di kelas dan halaman kampus-kampus tidak gagap
dalam membagi wacana tiga golongan ini. Karena bagaimanapun jutaan bahkan
milyaran kata yang melekat dalam halaman buku-buku atau ribuan kata yang
disampaikan pemateri kece dalam dialog diskusi maupun seminarnya belum tentu
memberi kepastian akan tiga buah bibir kaum intelek yang dimaksud.
Mendengar
gombalan penulis sebelumnya, sejarah angkat bicara akan persoalan ini. Istilah
golongan kanan dan golongan kiri sejatinya booming
di tanah basah Eropa yang cukup luas itu, sempitnya di negeri Prancis. Golongan
yang menganut ideologi kanan dan ideologi kiri muncul dimulai dari era sesudah
pecahnya revolusi Prancis 1789. Ketika raja dan parlemen merebutkan supremasi
kekuasaan, dimana para wakil yang duduk di Majelis Nasional Prancis,
mengelompokkan golongan tersebut sesuai
dengan ke-ekstriman pandangannya. Para wakil yang sangat anti kerajaan duduk di
ujung kiri, sedangkan wakil rakyat yang mendukung kerajaan duduk di ujung
kanan. Sedangkan kelompok-kelompok dengan pandangan yang lebih moderat duduk
ditengah.
Jelas
terlihat, pemahaman awal tentang golongan kiri dan kanan hanya sebatas
pemahaman yang berbeda antara yang pro-pemerintah dan kontra-pemerintah
Prancis. Berbeda dengan sekarang pemahaman tersebut bermetamorfosis dan beranak
pinak menjadi sebuah ideologi yang seolah mustahil untuk di samakan apalagi
disatukan. Kesalahpahaman pun tumbuh
subur dikalangan Mahasiswa, yang memandang keduanya dalam teropong yang sempit,
dan di komunikasikan melebar jauh dari gawang fakta.
Seseorang
berkalung sorban bergumam “lewat jalan kanan
aja Pak !”.
Realitasnya
di Indonesia perkara ideologi ini, seringkali diindetikkan bahwa yang kiri (lebih
ke Sosialis-Komunis) dan yang kanan (lebih ke Agamis). Menurut Saifuddin
Al-Mghniy dalam tulisannya yang berjudul “Ideologi
Politik dari Kiri ke Kanan”[2]
menyatakan bahwa pergeseran ideologi ini terjadi sejak fase 45 hingga 65, dan
menggiring ke fase melenium saat seperti sekarang ini. namun perlu dipahami
bahwa penguatan ideologi tertentu begitu kuat mengakar di setiap penganutnya
walau patron kliennya sudah bubar. Tetapi yang menarik kata Saifuddin adalah bahwa
ideologi kanan (agamis) cendrung mengambil alih kekuatan-kekuatan ideologi
lainnya termasuk ideologi sosialis-komunis yang boleh jadi kerena pengaruh
runtuhnya partai komunis di beberapa belahan dunia sehingga juga sangat
berdampak pada eksistensi kelompok sosialis.
Ada
hal yang unik cendrung aneh, di Indonesia ini perbedaan yang ada menjadi wacana
perpecahan yang serius dan menjadi dinamika yang berkelanjutan. Padahal
semboyan Bhineka Tunggal Ika sejak
dulu sudah di promosikan bahkan dari tinggkat paling dasar di dunia pendidikan.
Akan tetapi pendewasaan masyarakat dalam merespon perbedaan, nampaknya belum sampai
pada garis keberhasilan yang signifikan bahkan cendrung merosot tak terkendali.
Aib bangsa pun menjadi korban olok-olokkan bangsa lain, dan itu
menggambarkan betapa sukarnya Sila ke-3 untuk di realisasikan.
Golongan
kanan yang di motori para ulama berdasi atau intelek berpeci ini kerap kali mengkastakan diri dikalangan ummat.
Belum lagi dakwah-dakwah pemecah belah bangsa, bahkan yang ekstrim adalah
propaganda tersebut dibawa ke podium khotbah jumat, celakalah ummat. Meskipun
nilai agama sukar untuk dibantah, karena berisi pesan-pesan dari Tuhan akan
kehidupan dunia dan akhirat. Namun yang menjadi blunder adalah ketika misi-misi ketuhanan itu dijadikan alat untuk
memecah belah bangsa, hilanglah esensi ketuhanan yang terkenal akan nilai luhur
penuh perdamaian itu.
Para
calon bupati, walikota, atau gubernur yang selama ini tidak pernah terlihat ke
mesjid sama sekali, tiba-tiba begitu rajin dan peduli mendatangi masjid dan
peringatan hari-hari besar. Ternyata, memang ada udang di balik batu. Rajin
mendatangi masjid karena sedang masa kampanye pilkada atau pilgub.[3]
Begitulah gambaran tentang ke-Indonesiaan kita yang digambarkan oleh Abdullah
Muadz yang disebutnya sebagai Ibadah
politik, bobrok dan terus membobrokan diri sendiri maupun kelompok.
Tercorenglah elit negeri di mata masyarakat, malulah Ibu Pertiwi di mata dunia.
Sungguh
tidak mudah berbicara tentang Islam di Indonesia, sebab agama termasuk masalah
peka. Kosakata politik Indonesia telah diperkaya dengan singkatan SARA (Suku,
Agama, Ras, dan Antar-golongan) yang melukiskan kepekaan politik di Indonesia.[4]
Akan tetapi bukan berarti kajian atau forum-forum diskusi tentang keislaman tidaklah
dilarang, selama tidak mengganggu ketentraman dan stabilitas politik. Lagi-lagi
yang menjadi celaka adalah bola liar itu dimainkan seenaknya, isu agama
dipermainkan dan diperbudak wacana-wacana politik.
Keprihatinan
itu menjadi bola salju yang terus menumpuk dan membesar bentuknya, ketika
isu-isu agama dijadikan kuda tunggangan politik. Sakralnya ayat-ayat Tuhan
menjadi alat yang paling manjur untuk menipu rakyat, celakalah langkah bangsa.
Ulama sejatinya penasehat bagi bangsa yang kelelahan akan persoalan negeri,
menjadi penghapus dahaga akan hausnya ketentraman negeri dan menjadi
motor-motor penggerak anak bangsa yang soleh dan solehah untuk ikhlas mengurus
negeri agar terwujud Baldatun Toyyibatun
Warrobun Ghafur.
Kita
tidak sedang mencaci-maki ulama, kita tidak sedang menguliti aib tokoh agama,
ini tentang refleksi dan tentang realita yang sering kali kita dengar dan lihat
di layar kaca. Tidak juga dominasi kaum agamis selalu negatif, masih banyak
ulama yang umara, umara yang ulama, intelek yang pandai agama, ustadz-ustadz
yang ikhlas dalam perjuangan dakwah dan santri-santri yang siap menjadi teladan
bangsa. Agar sama-sama kita introspeksi diri, koreksi hati, evaluasi individu maupun kelompok. Karena sejatinya
agen kebaikan itu bukan hanya tugas para nabi, bukan pula beban para ulama,
yang pasti itu kewajiban kita bersama sebagai ummat manusia sebagai aktualisasi
khalifah fil ardi.
“Agama harus tidak berasal dari nabi,
murid-murid nabi, ulama, ruhaniwan, pujangga, atau jenis cendik-cendikia macam
apa pun. Agama hanya mungkin dianggap agama apabila ia sepenuh-penuhnya
merupakan hasil karya Tuhan, lepas dari kenyataan bahwa kita boleh
mempertengkarkan secara metodologis mengenai bagaimana sesuatu itu absah
dianggap sebagai hasil karya Tuhan.”[5]
Begitulah
beberapa kemungkinan yang ditawarkan Cak Nun tentang agama. Karena menurut Cak
Nun, agama akan diterima secara menyeluruh jika agama diterbitkan langsung dari
Tuhan tanpa perantara. Karena perantara tentang keagamaan kerapkali diragukan keautentikannya.
Ataukah hal-hal semacam itu hanya dijadikan alasan semata bagi manusia untuk
mengingkari keberadaan nilai-nilai suci agama.
Kenalkanlah
agama sebagai berita gembira, kenalkanlah agama sebagai janji cinta Tuhan
kepada manusia, dan kenalkanlah agama sebagai obat semua penyakit jiwa. Jangan
kenalkan agama sebagai tukang cambuk yang menakutkan, jangan pula kenalkan
agama sebagai pengancam yang kejam. Sejatinya memang agama berisi berita
gembira dan ancaman bagi manusia yang durhaka, namun dalam konteks dakwah
kenalkanlah agama sebagai janji cinta Tuhan kepada manusia, agar manusia
mencintai sang Maha Cinta dengan cinta. Dengan itu, niscaya bukan hal yang
mustahil manusia akan berbondong-bondong masuk dalam jalan agama. Karena
manusia akan sadar cinta sejati datang dengan cara-cara sejati, dan begitulah
seharusnya memperkenalkan nilai-nilai Illahi.
Sejatinya
agama menjadi rahmat bagi semesta alam, artinya semua komponen dalam kehidupan
ini dapat di tutoring agama supaya
terarah dan terukur. Jika itu dapat terwujud, tentu tidak ada lagi anak SD yang
merokok, anak SMP yang terkena Narkoba, anak SMA yang hamil di luar nikah,
pemuda yang anti persatuan, dan pejabat yang hobi korupsi. Negeri apapun dan
dimanapun akan makmur, dan berkemajuan.
Karena moral bangsa akan terawat dengan baik, langkah pemuda akan berorientasi
pada dakwah, dan orang-orang dewasa akan berlomba-lomba menjadi uswah bagi generasi penerusnya. Munculah
peradaban emas yang memancarkan kemilau kebajikan dan kemajuan ke seluruh
penjuru dunia. Walllahu a’lam.
Para
Santri bergumam “bagaimana Pak setelah lewat
jalan kanan?”.
Agama
kurang diperkenalkan sebagai berita gembira dan janji cinta, melainkan sebagai
tukang cambuk, pendera, dan satpam yang otoriter.
Emha Ainun Nadjib
[1] Radis Bastian. 2014. Dalai Lama, Pemikiran Emas Sang Pemercik
Kedamaian, (Yogyakarta: PALAPA), hlm. 203.
[2] Artikel Ilmiah yang dimuat dalam
www.penelehnews.com edisi 23 Juni 2016, pukul 01.43
WIB
[3] Abdullah Muadz. 2013. Ini Dia Tuhan Baru, (Jakarta: Al-Qalam),
hlm. 176
[4] Nurcholish Madjid. 2013. Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan,
(Bandung: Mizan), hlm. 102.
[5] Emha Ainun Nadjid. 2015. Surat Kepada Kanjeng Nabi, (Bandung:
Mizan), hlm. 384.

Comments
Post a Comment