Filsafat Hidup
Coba Kita Renungkan
Oleh Ahmad Ruslan[1]
Pernahkah kau bertanya..
Tuhan..pernah kah hujan meminta ditemani petir
Pernahkah awan merasa kesepian ditinggal hujan
Apa justru merasa senang
Bukankah hujan milik awan..
Tapi kenapa dia abadi bersama tanah
Yang menjadi saksi, dedaunan yang sempat basah kemarin
Pernahkah kau bertanya..
Lalu apa peran kilat
Apa tidak terlalu antagonis, begitu pun petir
Pernahkah kau bertanya..
Seberapa bingung perjalanan angin
Meratakan kedamaian
Seberapa lelah maraton air sungai,
Dan hanya berbuah akulturasi di muara
Atau justru asimilasi
Lalu kicauan burung-burung itu..
Untuk menghibur siapa, apa sebuah pertanda
Benarkah untuk kita..tapi kita yang mana
Mereka juga kah..
Lantas..apa maksud tipu daya malam
Pernahkah kau bertanya..
Apa maksud bulan temani malam
Apa malam tidak cukup mandiri
Apa malam terlau cengeng hadapi gelap
Bukahkah gelap itu pun miliknya
Angin yang sibuk, nampaknya tidak sempat beri jawaban
Dedaunan yang terlelap, nggan berkomentar
Senja sudah terlanjur jauh..
Bintang pun malas beri kesaksian
Pernahkah kau bertanya..
Begitu pun tentang kesibukan siang
Apa maksud baik mentari pagi
Apa maksud sengatnya disiang hari
Apa maksud larinya disore hari, hingga tenggelam
Tenggelam kemana..
Ah.. kata mereka hanya berputar-putar kok
Pernahkah kau bertanya..
Apa maksud dustanya manusia
Apa maksud sombongnya kita
Punya hakkah manusia untuk itu
Katanya makhluk paling mulia, apa karena itu ia jadi angkuh
Dan merasa punya segalanya
Apa maksud budaya menciptakan kasta
Hingga kita digolong-golongkan
Ada si kaya, ada si miskin
Ada si pintar, ada si bodoh
Ada atasan, ada bawahan
Ada penindas, dan ada yang tertindas
Mungkin karena ada yang rajin dan malas kali
Atau ini prihal si baik, dan si jahat
Ah nampaknya terlalu kasar..”belum baik”
Coba kita renungkan..
Pernahkah kita manjakan anak yatim
Pernahkah kita tengok orang miskin
Sekedar beri mereka senyuman, nampaknya tidak terlalu sukar
Apa kita terlalu akrab dengan kemewahan
Hingga terlupa..
Apa kita terlalu dekat dengan kekuasaan
Berselimut keangkuhan
Hingga kita rasa tak berdosa
Ah mungkin memang kita terlupa..atau masih awam akan makna
Atau mungkin kita sudah tahu, tapi tidak mau tahu
Iya memang kita..kau tunjuk siapa
Jangan arahkan sembarangan telunjukmu kawan
Pernahkah..
Atau tidak pernah
[1] Mahasiswa
FKIP UHAMKA Jakarta Timur, Prodi Pendidikan Sejarah
NIM:
1301085026
Email: ahamadruslan11@gmail.com
Comments
Post a Comment